Memasuki awal masa Adven 2008 ini, kita diajak gereja kembali berjaga-jaga. Hal ini dikemukakan pada bagian akhir bab 13, Injil Markus.
Teringat kembali saya pada saat pasca peristiwa Mei 1998. Karena situasi di-
nilai gawat, keluarlah maklumat RW/RT di Jakarta untuk mengadakan penjagaan malam. Bapak-bapak dan anak laki-laki se-RT bergantian menjaga kompleks perumahan di tempat kami. Ya, karena maklumat dikeluarkan maka mau tak mau kami melaksanakan tugas, dengan peralatan se-adanya seperti pentungan kayu, dan lainnya.
Waktu itu kita tidak bertanya, Berjaga-jaga untuk apa? Serangan dari mana? Siapa? Kami tidak tahu. Pendeknya, 2 – 3 minggu kami bergantian berjaga. Karena bersama-sama berjaga, kitapun sesama warga, menjadi saling kenal dan itulah awal kami di RT 10 Kedoya Baru menjadi komunitas insani.
Kini seruan berjaga-jaga didengungkan kembali, dalam Injil Markus minggu ini. Seruan ini bukan untuk kita saja, bukan hanya untuk umat katolik ataupun kristiani lainnya, tetapi untuk seluruh umat manusia. Yesus akan datang kembali bagi semua. Kita diingatkan untuk tidak lengah. Jangan mengira hidup akan terus berkelanjutan, tanpa akhir. Waspada, tidak ada yang tahu kapan kita akan dipanggil, kapan Dia akan kembali, kapan dunia akan berakhir.
Tanda-tanda jaman sering menyesatkan. Teknologi memang makin canggih, jalanan makin macet dengan sepeda motor dan mobil, yang bertambah populasinya dengan kecepatan makin tinggi. Tapi pada waktu yang sama alam mengingatkan kita akan keterbatasannya manusia. Alam “marah” karena diperlakukan sewenang-wenang oleh manusia yang loba, yang merusak alam dan lingkungan.
Bilakah Yesus akan kembali? Tak seorangpun tahu. Tidak juga para peramal dan pembohong, yang tiap malam ditayangkan di televisi kita di seantero Nusantara. Dalam kitab Yesaya 44:25, kita baca: “Akulah yang meniadakan tanda-tanda peramal, pembohong dan mempermain-mainkan tukang-tukang tenung.”
Waspada, berjaga-jaga, mari kita persiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan kembali Sang Penebus. Kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Paling tidak kita perlu menyiapkan diri kita setiap saat. Lord Baden Powel, bapak Pandu sedunia yang terkenal menasihatkan orang-orang muda, untuk Selalu Sedia – Be prepared. – Who knows when ?
(Michael Setiawan)