PESTA KELUARGA KUDUS

Pusat dan perhatian kita pada hari Raya Natal adalah bayi Yesus yang lahir dalam kesederhanaan yang miskin karena kita, tu-juannya justru supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (bdk 2 Kor 8:9). Pada Pesta Keluarga Kudus pusat perhatian kita ialah kesederhanaan yang miskin pula. Betapa tidak. Yang mendasari hidup me-reka ialah keutamaan iman yang nampak dalam hubung-an pribadi yang amat dekat dengan Allah. Namun walau-pun demikan tidaklah berarti bahwa hidup mereka bebas dari cobaan atau beban kesulitan hidup.
Yang menarik ialah bahwa Injil ti-dak banyak berbicara tentang kedua orangtua Yesus. Bila mereka muncul, se-lalu dikaitkan dengan puteranya. Jasa Yusuf dan Maria dalam kehidupan Yesus pastilah tidak kecil. Mereka pantas me-nikmati penghormatan dan perlakuan sepadan dengan kedudukan dan martabat sebagai ayah dan ibu Mesias. Namun nyatanya penampilan mereka yang sa-ngat menonjol adalah kesederhanaan. Meskipun tahu siapa Yesus itu, mereka tidak minta diistimewakan. Tetapi mere-ka tetap taati ketentuan Hukum Taurat, seperti penyunatan, pemberian nama, pentahiran dan persembahan korban (Luk 2:21-40.Lih. Im 12:6). Yesus diper-lakukan seperti anak-anak seusia. Ia cukup dikenal sebagai seorang tukang kayu seperti pengrajin kayu lainnya. Maka tidak mengherankan bahwa Yesus kelak tahan memikul derita dan sengsara yang demikian dahsyat, karena sejak awal fisiknya telah digembleng. dan ditempa dengan kerasnya. Bagaimana si- kap Yesus terhadap Maria dan Yusuf? Meskipun Yesus itu Allah, namun Ia tidak merendahkan mereka, malah taat. ”dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka....Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk. 2:51-52).
Marilah kita bela-jar sederhana dari Keluarga Kudus. Orang sederhana berarti juga rendah hati, baik terha-dap Allah maupun pa-sangannya. Kalau se-dang mengalami salib hidup, tidak mengeluh, apalagi marah pada Tuhan, tapi berserah dirilah. Ingatlah bahwa ”Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi ke-kuatan kepadaku” (Fil 4:13). Terhadap pasangan juga rendah hati. Akuilah kele-bihan dan kekurangan masing-masing. Suami dengan jujur berkata ”Aku tidak bisa apa-apa, kalau tidak ada pendam-pingan isteriku”, Begitu pula isteri berkata jujur:” Saya bisa seperti ini, karena suamiku”. Apa artinya aku tanpa pasangan hidupku?
Keluarga Kristen janganlah sampai kalah dengan keluarga lain, sebab kita ini mempunyai Kristus, andalan kita. Bukankah hidup kita terarah pada Dia dan diresapi oleh cinta kasih-Nya? Kesetiaan suami-isteri, tanggungjawab orangtua dan kepatuhan anak-anak merupakan pantulan sinar persatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Sejauh mana kekuatan iman kita berdua dalam Kristus sebagai pasangan suami-isteri selama ini? Kehadiran Kristus di tengah Keluarga Kudus menampakkan cinta kasih, keramahan, kemesraan dan damai sejahtera. Mohonlah agar Ia hadir di tengah keluarga kita masing-masing. Percaya dan yakin bahwa Tuhan memberkati kita. (Rm. Poespo O.Carm.)
|