Baptis: pengilahian kemanusiaan kita
“Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atasNya. Lalu terdengarlah suara dari surga,: Engkaulah Putera kesayanganKu, Engkau berkenan di hatiKu”. Kutipan ayat KS tersebut di atas merupakan bacaan Injil yang diwartakan Gereja pada Hari Pesta Pembaptisan Tuhan. Penginjil, khususnya Markus pasti mempunyai alasan menuliskan kata-kata tersebut. Salah satu alasan yang mendasar bahwa baptis yang diterima Ysus bukan baptis pertobatan belaka melainkan baptis pengilahian. Pencurahan air yang diberikan oleh Yohanes ingin menegaskan kepada dunia bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh putera Allah.
Dalam perjalanan liturgi Gereja peristiwa pembabtisan Tuhan diletakkan dalam konteks pesta. Artinya sesuatu yang besar. Gereja katolik senantiasa merayakan itu setelah peristiwa Natal. Dalam arti liturgis pesta pembabtisan Tuhan kiranya bukan sekedar mengenangkan bahwa pernah ada peristiwa seorang yang bernama Yesus dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Kalau sebatas peristiwa itu pasti tidak ada dampaknya uintuk Gereja. Pewartaan pembatisan Tuhan tidak lain adalah juga penegasan bahwa baptis yang diterima oleh kita lewat Gereja juga sama maknanya bukan sekedar menghapus dosa melainkan kita dijadikan ”anak” Allah. Kerapuhan kita karena permandian dikuduskan oleh Yesus.
Pengangkatan kita menjadi putera dan puteri oleh Allah melalui Gereja KudusNya tidak lain merupakan sebuah cinta kasih Allah yang begitu hebat. Allah tidak sekedar menciptakan kita sebagai manusia daging, manusia jasmani. Tetapi lebih dalam, yaitu bersama Kistus yang adalah putera sulung Bapa, kita pun karena baptis hidup kita disucikan, diilahikan, dikuduskan. Kita begitu dicintai Allah sehingga tidak berhenti pada kedagingan, melainkan kesucian. Kefanaan dan kelemahan kita disempurnakan oleh rahmat permanidan yang telah dibuktikan oleh Yesus sendiri.
Sebagaimana Yesus yang adalah Putera Sulung Bapa, mewujudkan hidup ilahinya dalam karya dan perbuatannya. Ini menegaskan bahwa rahmat pengilahian yang dinyatakan dalam permandianNya menjadi semakin nampak bagi dunia karena nilai-nilai ilahi itu oleh Yesus diwujudkan dengan nyata. Kita pun sama, karena permandian oleh Gereja hidup kecusian kita pun menjadi nampak kalau diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Yesus mewujudkan hidup ilahi Bapa-Nya dengan mengembangkan hidup sebagai Nabi, yang senantiasanya menyerukan kebenaran. Hidup sebagai imam agung, yang kehadiranNya menguduskan dan hidup sebagai raja, dimana misinya adalah membangun persekutuan dan kebersamaan (keutuhan).
Kita juga memiliki panggilan yang sama. Karena baptis kita pun telah dipilih oleh Allah dan dikuduskan untuk diutus. Diutus bukan untuk kudus seorang diri dan egois, melainkan kehadiran kita juga untuk yang lain. Kita adalah sakramen bagi dyunia di mana kehadiran kita sebagai orang yang dibaptis sama dengan kehadiran Yesus pada zamannya. Kita dipanggil menjadi nabi, orang-orang yang masih bisa benar dan berani menyerukan kebenaran. Kita menjadi imam, orang-orang yang masih memiliki kesucian hidup dan mengudiskan kehidupan serta kita menjadi imamnya di mana kehadiran kita mengembangkan persekutuan dan keutuhan sebagai saudara se Bapa. Pembatisan Tuhan tidak lain adalah penegasan bahwa hidup kita hendaknya semakin menyerupai dengan hidup Yesus. ()
|