PEWARTA INJIL SEJATI
Dalam Injil hari ini Markus bercerita, bahwa Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon dan banyak orang sakit lainnya, serta mengusir setan. Cerita itu memperkenalkan Yesus sebagai pribadi yang mampu menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan. Namun janggal pula, bahwa Yesus melarang setan-setan itu berbicara tentang Dia, padahal mereka sebagai roh jahat tahu siapa Dia itu. Mengapa justru setan dilarang “memperkenalkan” Yesus kepada orang-orang? Bukankah mereka itu justru akan dapat “mempromosikan diri Yesus” bagaikan iklan gemilang yang akan membuat-Nya populer, seperti terjadi pada gerakan Pikalda atau Pemilu?
Justru popularitas palsu itulah yang mau dihindari oleh Yesus. Mengapa? Orang-orang hanya akan melihat Yesus sebagai penyembuh penyakit dan pengusir setan; pribadi yang luar biasa dan sukses. Jika Yesus membiarkan setan memperkenalkan diri-Nya kepada banyak orang, maka Yesus memberikan setan kesempatan untuk memisahkan Ia dari tujuan warta gembira-Nya yang sesungguhnya dan utuh. Sebab isi warta gembira-Nya bukan kesembuhan jasmani, pengusiran setan melulu, atau kondisi materiil belaka; melainkan juga tuntutan kesediaan setiap orang untuk mendengarkan dan melaksanakan seluruh ajaran dan perintah-Nya. Yesus pun juga manusia seperti kita, sekiranya hanya mengikuti keinginan manusiawi-Nya, Ia menghadapi bahaya untuk menjadi pewarta palsu atau menjadi tokoh takabur, hebat, populer! Dengan demikian Ia bukan lagi menjadi pewarta asli Kerajaan Allah, yang dikehendaki oleh Bapa-Nya!
Bukankah ini sebenarnya juga bahaya yang kita hadapi? Bukankah peristiwa dan keadaan yang kita alami di tengah masyarakat kita dewasa ini, sadar atau tak sadar, adalah yang dilakukan oleh roh-roh jahat, apabila Yesus tidak melarang mereka memperkenalkan Yesus kepada masyarakat? Sebab apabila roh-roh itu memberitahukan siapakah Yesus itu, pemberitahuan mereka justru bertujuan untuk menjatuhkan Yesus. Yesus menjadi populer dan justru karenanya akan kehilangan jatidiri-Nya sebagai Penyelamat. Ingatlah akan godaan setan, yang dialami Yesus ketika berpuasa 40 tahun sebagai persiapan di padang gurun!
Politik yang asli tujuannya, demokrasi yang benar, atau kesejahteraan masya-rakat yang adil, kesediaan hidup bersama sebagai warga negara yang majemuk keyakinan keagamaan dan sukunya untuk saling menghormati dan menghargai. Semua ini hanya mungkin, apabila kita meneladan sikap dan perbuatan Yesus. Ketidakmurnian tujuan pribadi/kelompok, dapat kita lihat dan alami di dalam masyarakat kita sekarang ini. Orang saling curiga, saling berkonkurensi cari nama/popularitas, tanpa ragu menempuh jalan anarki dan kekerasan dalam tindakannya.
Yesus mengajak kita semua untuk mengikuti Dia mewartakan dan melaksanakan Injil-Nya yang otentik, bukan yang palsu! Injil hari ini juga mencatat, bahwa Yesus sesudah bekerja sampai malam, toh pagi-pagi benar menyendiri untuk berdoa! Yesus sadar bahwa apapun yang dilakukan-Nya bukanlah hanya dari kekuatan-Nya sendiri, melainkan dari Bapa. Ia selalu mendengarkan suara Roh, yang membimbing-Nya. Doa-Nya inilah yang merupakan sumber kekuatan-Nya. Inilah pula benteng yang melindunginya dari kekuatan jahat! Hanya hasil kesatuan-Nya dengan Allah Bapa dalam doa itulah yang memung-kinkan Yesus mewartakan Injil, warta gembira, yang otentik dan utuh. Pewarta kabar gembira, yang tidak erat huhungannya dengan Dia yang diwartakannya, hanya akan mengucapkan kata-kata yang kosong.
Dalam Bacaan II, surat Paulus kepada umat di Korintus, kita dapat menjumpai seorang pewarta kabar gembira sejati. Ia tidak terikat akan gaji, honorarium, atau sponsor. Ia mewartakan kabar gembira (evangelisasi), yakni kabar gembira Kristus yang telah dialaminya sendiri. Apa yang dialaminya sebagai sumber kegembiraan hidupnya, yakni hubungan-Nya dengan Kristus Yesus, - itulah yang mendorongnya untuk meneruskan kegembiraannya kepada orang lain. (Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.)
|