DEMI CINTA KASIH

Menderita, kesepian, tak berguna dan terbuang adalah situasi yang tidak diinginkan siapapun. Apalagi sampai dihina dan harus dikucilkan. Tak palang duka yang dirasa, menambah be-ban hidup yang sudah memberat. Hingga yang tersisa hanya putus asa. Kemudian hanya bisa diam dalam sakit dan mati.
Kehadiran Yesus di dunia merupakan wujud cinta dan belas kasih Allah pada kita semua. Ia datang untuk orang yang paling hina papa sekalipun. Yesus telah mentahirkan seorang yang sakit kusta. Bagi orang Yahudi, kusta adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya sakit lahir dan batin, sebagai kutukan Tuhan dilarang mendekati orang sehat. “… kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata kepadanya: ”Aku mau, jadilah engkau tahir”. Yesus mau menyembuhkan orang sakit yang datang pada-Nya dengan iman yang teguh dan penuh kepasrahan. Pada abad modern ini, kita tahu cerita tentang Mother Teresa dari Kalkuta. Ia mau mengambil dan menerima orang-orang sakit dan terbuang tanpa pilih-pilih. Merawatnya atas nama cinta Allah. Itu bentuk cintanya kepada Yesus. Karena Yesus mengatakan: Aku hadir dalam orang miskin dan menderita.
Sebagai anak-anak Allah yang selalu diperbaharui berkatnya sekaligus pen-dampingan Roh Kudus dalam setiap langkah kita; seberapa besar kehadiran kita membawa cinta dan kedamaian bagi sesa-ma, terutama yang ada di sekitar kita? Apakah kita hanya bisa memperbincangkan dan mendiskusikan saja mengenai masalah-masalah yang terjadi di hadapan kita tanpa berbuat sesuatu? No action talk only!?
Menjawab sambil lalu dan secara teoritis mungkin akan mudah. Bagaimana de-ngan tindakan nyatanya? Berat !? Karya pelayanan Mother Teresa tidak akan besar dan menyebar, jika ia melakukan hanya se-orang diri. Langkah demi langkahnya penuh kekuatan yang dibimbing oleh Roh Kudus dan bersumber pada kemuliaan Allah. Karena Yesus, demi Dia dan bersama Dia segalanya tidak ada yang mustahil. Ia berkehendak maka akan terjadilah.
Sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil. Sehebat apapun tujuan dan misi yang ingin kita capai baik untuk kehidupan pribadi atau pelayanan karya sosial tidak akan bertahan lama jika hanya mengandalkan diri sendiri. Uluran tangan-Nyalah yang membuat semua itu menjadi indah dan berkekuatan. Sedikit demi sedikit kita bisa mulai melakukan tindakan nyata yang mendatangkan kebaikan, kasih dan kedamaian. Bahkan sebuah senyuman tulus penuh cinta dapat menjadi mujizat bagi si sakit.
Diiringi dengan doa, disertai senyum dari hati yang tulus, kita mulai melangkah dalam pelayanan iman yang menanti dengan hati yang berbelas kasih. Amin. (Michael Setiawan)
|