MARI BERTANGGUNGJAWAB …!

Ada yang lucu dalam Injil hari ini. Petrus dan rasul yang lain bisa mengenali Elia dan Musa yang hidup berabad-abad sebelum mereka lahir. Mungkin karena mereka mendengar percakapan Yesus, Elia dan Musa itu. Jadi mereka mendengar, mengolah apa yang didengarnya sehingga tahu bahwa orang-orang yang bersama dengan Yesus adalah Elia dan Musa. Lalu mengapa tertulis juga suara dari dalam awan: “….dengarkanlah Dia.” Rupanya Petrus tidak merasa perlu mengolah lagi karena merasa sudah punya relasi yang baik dengan Yesus, merasa sudah tahu segala sesuatu tentang Yesus, lalu mengemukakan pendapatnya sendiri yang dianggapnya terbaik. Padahal Yesus mau ke Yerusalem menyelesaikan perutusan-Nya, bukan beristirahat di atas gunung. Ternyata mendengarkan merupakan bagian penting dalam suatu relasi. Dalam bahasa Inggris memang dibedakan antara to hear – mendengar dan apa yang didengar lewat begitu saja, dan to listen – mendengarkan dengan sungguh-sungguh, berarti mengolah pula apa yang didengar. Maka suara dari dalam awan memperingatkan para rasul bahwa relasi yang baik harus mendengarkan baik-baik, bertanggungjawab memahami kepentingan pihak lain.
Bagaimana kita berelasi dengan pihak lain? Bapak Uskup dalam Surat Gembala (SG) Prapaskah mengajak kita semua untuk membangun dan menyempurnakan cara kita berelasi satu sama lain, baik kepada Allah, sesama dan lingkungan hidup. Dengan demikian kita bertanggungjawab melaksanakan hidup pribadi dan bersama sesuai dengan kehendak Allah (bdk. SG no. 4). Jadi relasi yang baik timbul karena masing-masing pihak saling bertanggungjawab atas kepentingan kedua belah pihak. Allah sudah lebih dahulu membina relasi, merengkuh manusia tanpa putus, memperhatikan keselamatan manusia, bertanggungjawab atas dosa kita, dan mengutus Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Bagaimana relasi kita dengan Allah, sudah baikkah? Jika belum baik apakah ajakan Bapak Uskup untuk membangun dan menyempurnakan relasi dengan Allah menyentuh kita? Apakah kita punya komitmen untuk, secara bertanggungjawab, mendengarkan, mengolah, bersikap dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Tidak lagi “… memberati Aku dengan dosamu, … menyusahi Aku dengan kesalahanmu … karena pemberontakanmu…” (bdk. SG no. 7). Mari bertanggungjawab dengan bertobat dan memberi silih atas dosa kita! Tidak hanya selama prapaskah tetapi sepanjang tahun! Dalam relasi dengan sesama, kita pun harus bertanggungjawab mendengarkan dan paham akan kebutuhan sesama sebelum menanggapi, mengemukakan pendapat sendiri, atau bahkan memaksakan kehendak sendiri, supaya tidak mengalami seperti Petrus. Terlebih bila itu menyangkut pelayanan, baik pelayanan fisik, spiritual atau pastoral dalam Gereja. Kita diajak untuk berelasi dalam keluarga, umat basis, lingkungan dan di tengah masyarakat secara bertanggungjawab. Berarti, kita harus menyempurnakan kesatuan dalam keluarga, umat basis, lingkungan dan masyarakat karena kesatuan macam ini memperkokoh kesatuan hidup insani, bukan mencerai-beraikannya (bdk. SG no. 5). MARI BERTANGGUNGJAWAB..! (G.N. Aswin)
|