
Injil pada Minggu Prapaskah ke-5 menggunakan gambaran biji gandum yang jatuh dan mati agar dapat menghasilkan buah. Gambaran ini menjadi semakin jelas kalau kita mengamati dunia pertanian. Gandum adalah jenis tanaman padi-padian. Seperti bulir padi, demikian pun gandum kalau pohonnnya tidak mati (tua) bijinya tidak akan hidup. Sebab jenis tanaman ini adalah tanaman musiman sehingga kematian semusim menunjukkan sebuah ketuaan tanaman tersebut. Kecuali kena hama atau penyakit sehingga tidak bisa tua dan biasanya gabuk, maka pasti meski jatuh ke tanah tidak akan tumbuh.
Tanaman padi di sawah yang telah menguning dan tua ketika tanaman itu jatuh (katakanlah rontok) ke tanah kalau dibiarkan biji yang telah tua itu akan tumbuh dan berkembang menjadi banyak. Satu genggam padi bisa mencapai dua sampai tiga kilo gabah. Matinya tanaman padi karena tua dan bulir-bulirnya jatuh ke tanah akan mengembangkan dan memperbanyak tanaman padi muda. Demikian juga halnya dengan gandum.
Yohanes ingin menegaskan kepada para pembacanya, khususnya Gereja Perdana yang dalam situasi tradisi dan iklim Yunani di mana persoalan salib kerap dilihat sebagai kemalangan. Bagi Yohanes salib yang dipilih Yesus bukan kemalangan atau kutuk melainkan cinta. Untuk menegaskan pilihannya ini Yesus memberikan perumpamaan biji gandum yang jatuh. Seperti halnya peristiwa salib. Bagi Yesus pilihan memanggul salib adalah pilihan cinta kepada manusia. Meski ia kelihatan mati namun biji kasih yang dialami lewat salib itu tumbuh dan berkembang. Tentu Yohanes memberikan ceritera Injil ini dalam konteks bahwa peristiwa salib yang Yesus pilih dan alami karena cinta memberikan kehidupan (menebus) banyak orang. Meski kelihatannya Yesus mati, namun Ia memberikan kehidupan kepada banyak orang menjadi pribadi yang tertebus.
Dalam konteks paskah peristiwa Injil ingin mengajarkan bahwa keselamatan atau kehidupan tidak bisa lepas dari salib. Maka Yohanes mengkaitkan bahwa siapa yang takut kehilangan nyawanya malah tidak akan mendapatkan apa-apa. Artinya kalau mereka tidak mau mati demi Kristus maka mereka akan kehilangan hidup (nyawa) kekal. Mati demi Kristus artinya mematikan segala kelemahan-kelemahan kita agar semangat Yesus menjadi hidup dan menyelamatkan. Kalau Yohanes mengkaitkan kehiduupan kekal dengan salib menjadi semakin jelas bahwa barang siapa ingin selamat siap untuk memikul salib. Yohanes menegaskan bahwa salib tidak lain adalah pilihan kasih yang kita buat demi tata nilai yang kita imani sebagai kebenaran dan itu kita pilih dan jalani, meski untuk memilih itu orang kerap kali menderita. Penderitaan (mati) karena kesempurnaan kasih merupakan awal kehidupan (kekal) dihadapan Allah. Biji gandum itu mesti mati sebab kalau tidak mati tidak akan pernah akan berkembang. Dalam konteks pastoral kita perkembangan kehidupan menggereja atau pelayanan menjadi semakin berbuah kalau kita juga berani seperti biji gandum yang jatuh dan mati. Sebab pelayanan atau pastoral paroki selalu mengedepankan bahwa diri kita mesti mati lebih dulu. Mati artinya mengedepankan Kristus yang menjadi pusat pewartaan bukan diri kita. Kalau kita tidak mau mati (mematikan ego dan ambisi kita) maka tidak pernah akan menjadi buah. Sebab buah-buah yang harus kita berikan adalah bagaimana Kristus yang kita wartakan semakin dicintai oleh banyak orang. Mematikan diri tidak lain membuat yang kita wartakan semakin terdengar dan bukan malah kita yang terdengar. Maka menjadi indah kalau kita membiarkan biji gandum itu mati dan jatuh, supaya bulir-bulirnya bertebaran sehingga tumbuh di mana-mana. (Rm. Eko. O.Carm)
|