PERCAYALAH! KEBANGKITAN KRISTUS, KEBANGKITAN KITA SEMUA
“Di mana ambulans…di mana ambulans?”, kata seorang Bapak dengan setengah berlari memeluk anaknya yang masih kecil dan tampak ”diam”. Kegusaran dan kesedihannya tak terhapuskan dengan kehadiran beberapa orang yang turut mengantarnya menuju ambulans. Dan ketika pertolongan pertama diperoleh, hanya isak tangis dan sebutan “Allahu Akbar” yang menemani anak kecil ini dalam “diam”nya. Rupanya Tuhan berkehendak lain, anak itu telah pergi selamanya setelah berbagai cara ditempuh untuk menyelamatkan. Pengalaman ini adalah salah satu dari tumpukan duka saudara-saudara kita di Situ Gintung.
Siapa yang tidak merasakan sedih ketika orang yang kita kasihi pergi meninggalkan kita selama-lamanya. Bicara soal kematian sangat tidak mengenakkan, amit-amit, menakutkan. Bukan semata karena kita tidak tahu kepastiannya setelah mati namun karena kita juga tidak tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita akan mati. Dalam perjalanan karya keselamatanNya, Yesus berulang kali bicara tentang kematian dan kebangkitan. Bahkan dengan sangat tegas Ia menyatakan diri sebagai “Kebangkitan dan kehidupan” (Yoh 11:25). Tidak hanya itu, karena belas kasihNya Ia membangkitkan antara lain pemuda di Nain (Luk 7:11-17), anak Yairus (Luk 8: 49-56), dan Lazarus (Yoh 11:33-36). Juga karena keprihatinanNya terhadap orang-orang yang kurang percaya (Yoh 11:37-38), Ia bersedia memberikan tanda ini supaya mereka menjadi percaya. Hingga akhirnya, Ia sendiri bangkit dari antara orang mati.
Kebangkitan Yesus dan mereka yang Ia bangkitkan adalah sama sekaligus berbeda. Persamaannya adalah sama-sama bangkit dari antara orang mati. Sedangkan perbedaanya adalah mereka yang dibangkitkan Yesus, ada saksi mata dan hanyalah sebagai tanda kebangkitan Yesus yang sejati. Sementara Yesus tidak ada saksi mata (hanya melalui tanda-tanda situasi dalam makam dan penampakan malaikat; Mrk 16:1-7 dan Yoh 20:1-9) dan kebangkitanNya sejati guna mengalami hidup kekal bersama Bapa. Selama hidupNya, kebangkitan untuk hidup kekal inilah yang menjadi inti karya keselamatan Allah bagi dunia. Lantas apa yang bisa kita maknai dari perayaan Paskah ini? Paskah memberi arti dalam perziarahan hidup kita untuk berjumpa dengan Allah yang kita rindukan. Pertama, paskah merupakan perayaan pembebasan. Pembebasan dari maut atau kematian kekal karena dosa kita. Pembebasan yang menjawab secara tuntas ketidakpastian dan kegelisahan kita di dunia ini. Kedua, Paskah juga meneguhkan dan memotivasi masing-masing pribadi dalam iman, harapan, dan kasih yang hidup di tengah-tengah dunia yang nyaris “mati” ini. Dengan demikian Paskah bukan sekadar upacara/ritual, melainkan harus sampai pada sikap hidup yang optimis, tidak terbelenggu pada ekslusivisme pribadi atau kelompok tertentu, berani untuk terus berharap kepada Allah yang hidup, dan peduli. Hanya dengan membangun kepercayaan bahwa kebangkitanNya untuk membangkitkan kita semua seperti halnya murid yang lain (Yoh 20:8), hidup kita akan menjadi bermakna dan perjuangan kita untuk menanggapi kasihNya tidak sia-sia. Selamat Paskah, Tuhan memberkati. (Agis)
|