Link Ke Web Site Vox Angelorum

Warta Minggu, Sunday, May 03, 2009

Editorial | Bacaan Minggu Ini  | Artikel WM | Pengumuman WM |
Jadwal Prodiakon | Karikatur | Jadwal PPE |
 

SUSAH JADI GEMBALA


Paling tidak begitulah yang dialami para gembala di negeri kita. Jadi gembala sapi, sambil jalan kaki. Jadi gembala itik juga jalan kaki. Jadi gembala kambing, sama saja. Memang profesi gembala binatang di negeri kita kurang punya masa depan. Lain dengan di negeri Uncle Sam atau negeri Kangguru. Di sana cukup lumayan tingkat hidupnya. Punya kendaraan, punya kuda, punya rumah sendiri. Dan kalau di Amerika punya pistol dan namanya Cowboy.

Kawan saya, John namanya, dulu sekampung dengan saya di Kampung Melayu dekat Messter Cornelius. Sekarang John punya ranch di negeri Kangguru, bagian Utara, dengan lahan luas sekali. Memang waktu muda di tahun 65, dia ikut jaga Gereja St. Jusuf di Matraman. Waktu itu saya juga kebagian jaga RS. Carolus dan diberi pinjam pistol dari yang berwajib, walaupun tidak pernah belajar menembak seperti Cowboy Texas. Nah. John kawan saya itu emang jadi Cowboy benaran, jelasnya si empunya ranch. Jadi nasib dia sebagai Gembala Sapi memang berbeda.

Injil hari ini bicara mengenai gembala domba di tanah suci, tanah kelahiran Yesus, sang Gembala Agung. Seorang gembala bertugas menjaga kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Dia akan menjaga supaya semua domba aman, cukup makan dan berkumpul bersama, tidak tercerai-berai atau berkelahi satu sama lain. Kalau ada satu domba yang hilang, ia akan mencarinya hingga ketemu.

Memang setiap domba sama pentingnya, tak ada domba emas dan domba perak. Kalau kawanan dombanya kecil memang sukup satu gembalanya, tetapi kalau dombanya sudah belasan ribu, sepeti di Paroki MBK kita, wah bisa dibayangkan sulitnya pekerjaan gembala, meskipun  dibantu beberapa gembala yang lain. Memang dibutuhkan Super Gembala – Super Gembala untuik bisa melayani umat yang tinggal di Ibu kota negara, yang berasal dari latar belakang yang begitu bervariasi.

Memanjakan  hanya sebahagian umat akan mengganggu rasa keadilan umat lainnya. Memperhatikan setiap umat satu persatu memang tidak mungkin. Karena itu dibutuhkan sistim organisasi gereja yang memberi kesempatan pada sejumlah umat pilihan tertentu untuk berperan membantu gembala di lingkungan, wilayah dan Dewan Paroki.

Umat basis diharapkan berpartisipasi secara proaktif untuk membuat gereja kita menjadi gereja yang memperhatikan setiap anggotanya. Relasi antar anggota perlu ditumbuhkan dengan saling peduli satu sama lain. Ini memang melawan arus individualisme kota metropolitan , dimana orang cenderung tidak kenal satu sama lain, lebih cenderung memikirkan dirinya sendiri. Gereja memang harus tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Bukan saja geeja secara fisik berupa bangunan, tetapi lebih-lebih gereja sebagai kawanan domba yang dewasa dan mandiri, sehingga para gembalanya dapat memperhatikan mereka yang masih membutuhkan perhatian dan kasih para gembala.

Kita harus bersyukur bahwa para gembala kita di MBK ini luar biasa. Mereka super sibuk dan nyaris tak punya waktu untuk menarik napas. Mari  kita doakan agar mereka selalu dikaruniai kesehatan yang prima dan kebahagiaan, karena bisa melihat buah-buah hasil karya mereka. Semoga panggilan pada pemuda-pemudi kita untuk menjadi gembala umat bukan panggilan yang hanya bertepuk sebelah tangan. Kita butuh gembala-gembala super dan gembala super hanya akan muncul bila Roh Kudus mendapat kesempatan untuk berkarya dan berperan. Mari pada hari Minggu Panggilan ini kita bersama-sama memanjatkan doa agar semakin banyak pemuda-pemudi dari Paroki MBK kita yang tercinta ini, terpanggil untuk mengikuti jejak Yesus. Semoga.

(Michael Setiawan)