Link Ke Web Site Vox Angelorum

Warta Minggu, Sunday, May 17, 2009

Editorial | Bacaan Minggu Ini  | Artikel WM | Pengumuman WM |
Jadwal Prodiakon | Karikatur | Jadwal PPE |
 

KASIH TIADA BERKESUDAHAN


Injil Yohanes dikenal sebagai Injil kasih atau kabar gembira tentang kasih. Di dalam tulisan Yohanes, kita dapat merasakan bagaimana Yesus menyingkap misteri kasih Allah, sekaligus menegaskan kembali akan hukum cinta kasih. Semua itu diungkap oleh Yesus dengan tujuan agar “suka cita-Ku di dalam kamu dan supaya sukacitamu menjadi sempurna”.

Tiada kehidupan yang paling membahagiakan, selain hidup bersukacita di dalam Tuhan. Tuhan Yesus sendiri menyediakan sukacita yang lain dari yang lainnya. Tuhan mengarahkan hidup kita untuk menggapai sukacita hidup yang sempurna ; utuh dan sejati. Sukacita ini menjadi anugerah istimewa dari Allah bagi setiap orang karena mereka mampu hidup dalam kesatuan kasih dengan Allah. Kesatuan kasih manusia dengan Allah hanya dapat terjadi kalau manusia dalam hidupnya senantiasa menuruti perintah-perintah Yesus , seperti Dia telah menuruti perintah Bapa dan tinggal dalam kasih-Nya.

Dambaan semua orang adalah sukacita dalam hidup ini. Tuhan Yesus telah menunjukkan jalan bagi kita untuk memperoleh suka cita itu. Pertanyaan selanjutnya untuk kita adalah maukah kita melaksanakan perintah Tuhan dan tinggal dalam kasih-Nya?

Saling mengungkapkan kata-kata kasih , cinta, sudah sering kita dengar dalam kehidupan ini. Apakah ini dapat menjadi indikasi bahwa perintah Yesus, “Hendaklah kamu saling mengasihi, seperti  Aku telah mengasihi kamu”, sudah terlaksana? Rasanya masih terlalu dini untuk mengiyakannya.

Kasih , cinta kita seringkali berhenti pada kata-kata semata dan jauh dari perwujudan kasih sejati seperti yang dikehendaki Tuhan. Tak jarang pula perwujudan kasih kita tepat. Walaupun atas nama cinta kasih, tak jarang perwujudan kasih menimbulkan permasalahan, orang tidak merasa dikasihi, malah wujud kasih kita dirasakan sebagai beban, pengekangan dan penderitaan. Hal ini dapat saja terjadi kalau kaih hanya bersandar pada criteria pribadi, tanpa mau melihat kebutuhan orang lain yang dikasihi.

Perintah Yesus bagi kita untuk saling mengasihi memuat juga kasih macam apa yang mestinya diperjuangkan. Mengasihi, seperti Tuhan telah mengasihi diri kita, itulah standar kasih yang dikehendaki Yesus. Bagi Yesus, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang memberikan nyawa bagi sahabat-sahabat yang dikasihinya”. Yesus telah membuktikan kata-kata-Nya sendiri dengan kurban salib! Jelas bagi kita bahwa kasih adalah pengurbanan, pemberian diri bagi orang lain. Maka, keegoisan bukanlah kasih.

            Dalam permenungan saya muncul memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya berarti  mempersembahkan gairah, semangat, harapan dan cita-cita. Secara konkrit hal ini antara lain dapat dihayati demikian : (1)para pemimpin/ atasan sungguh melayani rakyat atau yang dipimpin, sehingga rakyat atau yang dipimpin hidup damai dan sejahtera lahir batin, (2) mereka yang terpanggil (imam, bruder, suster) sungguh membaktikan diri pada Yesus sehingga menjadi sabahat-sahabat-Nya dan bertindak seperti Yesus bertindak, (3) suami-isteri semakin saling mengasihi sehingga lama kelamaan mereka berdua bagaikan manusia kembar.

            Hidup saling mengasihi perlu dijiwai oleh kerendahan hati, saling mentaati dan menasehati serta saling mendoakan. Doa hemat saya sesuatu yang penting dan mutlak , maka baiklah ketika kita secara fisik dan sosial tidak mungkin mewujudkan kasih, marilah kita wujudkan dalam doa.  Mari kita saling mendoakan sebagai anggota keluarga/suami - isteri, komunitas, rekan kerja  semoga kasih mampu diwujud nyatakan dalam hidup kita. Semoga! (Magda,HK)