SOK TAHU…KEMUDIAN MENGELUH

Dalam suatu pertemuan puncak dihadiri gembala (pemimpin) tua maupun muda nampak berjalan dengan timpang karena pembicaraan hanya dikuasai oleh beberapa gembala berpengalaman. Ide-ide dari gembala muda ditebasnya dengan dalih menurut pengalaman dulu tidak seperti itu. “Seperti loe kale…merasa rambut uda penuh uban, uda banyak makan garam sehingga terlalu asin, kalau rapat mau menang sendiri…,” teriak sahabatku. “Ah enggak cuma gua, buktinya tuh lihat pembelaan petinggi DPR bahwa pemberian cincin emas dengan anggaran 2 milyar adalah kebiasan yang sudah berjalan 20 – 25 tahun. Baru setelah rakyat protes mereka mau mengubah tradisi,” jawab aku kesal.
Sekedar berimajinasi bebas dialog Yesus dan para rasul. “Marilah kita bertolak keseberang agar kita bisa merenung setelah satu hari kamu mendengarkan pengajaran dan juga melihat mukjizat-mukjizat yang sudah Aku perbuat,” sapa Yesus. Dengan bangganya Petrus menjawab, “Baik Bos, dengan senang hati. Sekarang silahkan Mas Ye(sus) duduk dibelakang sambil istirahat. Bukankah sudah penat karena seharian mengajar banyak orang. Relaks aja, aku adalah nelayan sangat berpenglaman dan mengenal segala cuaca danau ini.” Mungkin karena memang lelah dan merasa para rasul adalah nelayan andal maka Yesus tertidur.
Mula-mula situasi aman terkendali sampai tiba-tiba datanglah badai sangat dahsyat yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Nah, disinilah persoalan mulai muncul. Para rasul yang semula merasa sok jagoan melihat Yesus tidur saja seakan-akan tidak peduli dengan situasi gawat, muncullah rasa jengkel. “Apakah Mas Ye sudah tidak peduli lagi dengan murid-murid didalam kapal ini? Bukankah yang nyuruh berlayar tadi Mas Ye? Lho kok sekarang enak-enakan tidur tanpa membantu kami?,” tegur mereka guna mencari kambing hitam.
Sekarang pun kita sering menghadapi situasi mirip ilustrasi diatas. Kita merasa sudah bekerja lebih 30 tahun sehingga merasa sudah sangat berpengalaman. Dibiarkanlah Yesus tertidur. Lupa mengajak Yesus teman diskusi dalam setiap langkah. Rasa-rasanya semua badai bisa dihadapi secara mulus. Kesombongan manusia menutupi Yesus. “Kaya loe kale...merasa sok pintar tidak butuh pertolongan siapa-siapa,” sindir sahabatku.
Tetapi kenyataanya banyak kejadian-kejadian diluar tatanan muncul. Diluar dugaan! Tiba-tiba manusia menjadi tergagap-gagap menghadapi badai kehidupan. Marah dan mengomel kepada Yesus dan mempertanyakan kenapa Engkau tertidur aja tidak mau membantu. Bukankah Engkau menyuruh berlayar ketempat yang lebih dalam, berbuat ini itu. Aku sudah menyumbang dan melayani umat di paroki? Tetapi sekarang mana…mana…bantuan-Mu. Ayo bangun dong…jangan tidur terus. Sudah saatnya Engkau keluar membantu kami. Omelan demi omelan dengan lancar mengalir keluar dari orang sok tahu. Mendengar keluhan para murid 2000 tahun yang lalu maupun di jaman modern ini, Yesus terbangun dan menegur terhadap kekurangan iman kita. Benarkah Yesus tidak berbuat apa-apa? Mungkin Yesus sedang menguji dengan badai lain sebagai bentuk latihan agar iman kita bisa naik kelas. Beranikah aku mengahadapi badai tanpa mengeluh dan berkata, “Terjadilah menurut kehendak-Mu?” Semoga. (JA Gianto)
|