BELAJAR UNTUK “TERSUNGKUR”

“Setelah hitungan ketiga, saya minta Saudara-saudara yang ada di atas panggung ini masuk dalam alam tidurnya jauh lebih dalam dari sebelumnya. Satu…dua…tiga! Silahkan masuk dalam tidur Anda jauh lebih dalam dari yang sebelumnya”, perintah Romy Rafael kepada para peserta di panggung. Dan sekejap saja, mereka tidur dengan pulas. Aneh! Belum terjawab dan mungkin kita masih termangu akan peristiwa itu, Romy dengan santainya memerintah para peserta untuk melakukan apa yang diinginkannya. Dan mereka melakukan tanpa ada daya penolakan sedikitpun. Inilah yang dipertontonkan seorang Romy, master hipnotis dalam sebuah acara televisi untuk menghibur kita. Antara percaya dan tidak, kita digiring pada sebuah realita transrasional (melampaui akal budi red.) yang harus kita percayai.
Hari ini Injil Lukas (5:21-43) menceritakan hal yang serupa melalui perkataan dan tindakan Yesus terhadap perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan dan anak Yairus, seorang kepala rumah ibadat. Yang satu disembuhkan dari penyakit dan satunya lagi dibangkitkan dari kematian. Kendati demikian, apa yang dilakukan oleh Yesus bukan semata hiburan, melainkan gambaran dari visi dan misi kedatangan-Nya ke dunia yang juga merupakan visi dan misi hidup kita, yaitu mengalami keselamatan kekal. Lantas, bagaimana kita bisa sampai pada pengalaman transrasional tersebut? Bertahan! Inilah jawabannya. Keselamatan kekal yang sebenarnya sudah kita alami benihnya dalam kehidupan ini (sembuh dari penyakit, keberhasilan dalam sebuah usaha, dll) hanya dapat kita alami ketika kita memberanikan diri untuk belajar bertahan dalam iman seperti halnya dua pribadi dalam kisah Lukas ini. Beriman berarti “tersungkur” di hadapan Allah karena keyakinan kita akan Kasih-Nya (Bdk. Ay. 22 dan 33). Bahkan ketika kita tidak menyaksikan sendiri peristiwa tersebut (bdk. Ay. 27). Berkat sikap berserah diri inilah maka harapan tetap ada, masa depan masih terbuka, bahkan buahnya pun nyata. Memang menjadi pribadi yang mau ”tersungkur” di hadapan Allah bukan pekerjaan yang muda. Sejujurnya, kita masih merupakan pribadi-pribadi yang merasa diri percaya/beriman. Di satu sisi kita kerap kali masih dibelenggu oleh kesombongan diri akan sebuah keberhasilan; kerap kali mengeluh dan putus asa ketika doa-doa seperti angin di hadapan-Nya. Jika ini yang terjadi, kita akan berpegang kepada siapa lagi? Allah sudah banyak memberikan keteladanan dalam bertahan. Penyertaan-Nya dalam Roh yang telah dicurahkan bagi kita menjadi bukti bahwa Allah sangat mencitai kita meski kita lalai untuk mencintai-Nya. Selamat belajar ”tersungkur”. (Agis)
|