ANTARA KESEPIAN DAN PENOLAKAN DI KANDANG SENDIRI

Ketika sedang merenungi kematian sang super star Michael Jackson yang terus terlanda kesepian, meski ketenaran dan kekayaan tengah dalam rangkulannya. Masuklah SMS dari Pak Gianto mengingatkan saya bertugas membuat renungan di WM Minggu ini. Wah, ada hubungannya, atau, nggak, ya, antara kesepiannya Jacko dengan tema Injil Markus tentang nabi yang ditolak di kandangnya sendiri ? Di mana kalau kita hubungkan dengan dunia pendidikan Indonesia dewasa ini, kaitannya amat erat. Bayangkan, setiap waktu kita disuguhi berita gembira akan hasil prestasi anak-anak kita meraih berbagai penghargaan dari berbagai peristiwa lomba sains internasional di luar negeri.
Dengan rentetan prestasi itu, pembina anak-anak berprestasi Indonesia, Johanes Surya, berani mencanangkan tahun 2020 harus ada sarjana Indonesia yang bisa meraih hadiah Nobel. Namun, apa sambutan dari dunia pendidikan Indonesia ? Dingin-dingin saja, tuh ! Bahkan menteri pendidikan RI sendiri malah berkomentar tentang bea siswa yang terbatas. Sebaliknya universitas di Singapura sangat bergairah menarik mereka dengan iming-iming bea siswa dan kesempatan kerja yang amat menggiurkan. Jadi prestasi anak-anak Indonesia kurang mendapat apresiasi dari dunia pendidikan negerinya sendiri. Contoh lain, masih ingat Bung Karno sebagai penggali Pancasila. Nyaris namanya terhapus dari khasanah para bapak pendiri bangsa oleh pemerintah Orba. Padahal namanya terkenal ke seluruh dunia sebagai pahlawan bangsanya. Begitu juga kekayaan sejarah Indonesia, penelitinya malahan sarjana-sarjana dari manca negara.
Kalau soal harga menghargai jasa orang, sepertinya bangsa kita ini alot atau pelit terhadap prestasi anak bangsanya sendiri. Ini menular seperti wabah virus yang menyebabkan bangsa kita sebagai bangsa yang pelupa. Ini akibat semua lapisan yang kuasa atau diberi kekuasaan sudah terbelenggu ilmu manajemen pragmatis, yang semua kuantifikasi manusia diukur dengan angka-angka, ukuran untung rugi mengabaikan sejarah bangsanya sendiri atau para seniornya. Sejarah sebagai dasar ilmu untuk pergaulan terutama keluasan manusia yang tak terbatas semuanya tereduksi. Maka tak heran Yesus sendiri di kandangnya sendiri, Nasareth, sulit untuk melakukan mukjizat-mukjizat. Persis seperti anak-anak Indonesia yang berprestasi itu, mana bisa menghasilkan karya besar ilmiah sebagai dasar penilaian sebuah hadiah Nobel. Di Tanah Airnya sendiri yang gersang akan sebuah apresiasi?
Bisa jadi anak-anak itu jika terus berada di kandangnya sendiri akan merasa kesepian. Dan kesepian itu bukan monopoli anak-anak pintar atau si Jacko saja, tetapi semua kita juga bisa merasakan. Arti positif dari kesepian adalah sebuah langkah untuk membuat kita menjadi diri kita sendiri, untuk lebih mudah mengerti dan menerima sesama, lebih mudah berdialog dengan Tuhan ( berdoa). Meski disertai rasa putus asa karena perasaan Tuhan tetap membisu. Namun dalam kesepian itu justru kita bisa mendengar bahwa Tuhan berbicara dan memberitahu kita. Paling tidak pengalaman merenungi kesepiannya si Jacko dengan Injil Markus bisa saya “sambung”kan benang merahnya. Setidaknya untuk diri saya sendiri. Syukur, kalau Anda juga ikut merasakan, apa arti sebuah ketenaran dan gelimangnya harta kekayaan, kalau kita tidak bisa menghayati kesepian dan menemukan arti positifnya? Jangan heran mati muda, stress dan stroke kini menjadi sahabat manusia. (IG.Sunito)
|