ROTI HIDUP SEJATI

Sesudah peristiwa penggandaan roti, banyak orang berbondong-bondong mencari Yesus. Namun, apakah motivasi mereka yang sebenarnya? Ternyata seperti yang terbaca oleh Yesus, mereka mencari Dia karena ingin memanfaatkan-Nya untuk mewujudkan impian dan cita-cita mereka. Yesus berkata kepada mereka “Kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda melainkan karena kamu telah makan roti dan kenyang.”
Yesus sedikit kecewa dengan mereka karena mereka melihat diri-Nya hanya sebagai “tukang” memberi makan gratis. Padahal, dengan mengadakan mukjizat-mukjizat itu Yesus ingin agar mereka percaya kepada-Nya sebagai seorang yang diutus Allah. Yesus ingin menyadarkan mereka tentang sesuatu yang lebih penting dari roti yang hanya berfungsi mengenyangkan tubuh jasmani saja. Yesus mengantar mereka kepada iman yang membawa keselamatan. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada kehidupan kekal.”
Dengan berkata demikian, Yesus bukannya tidak bisa memberikan mereka roti seperti yang mereka peroleh sebelumnya. Namun, Yesus menawarkan satu jenis roti yang lain. Roti yang seperti mereka peroleh sebelumnya dapat mereka peroleh di tempat lain dari orang lain. Roti seperti itu tidak bisa diberikan oleh orang lain. Hanya Dia sendirilah yang sanggup memberikannya kepada mereka. Dan roti yang memberikan kehidupan itu adalah Tubuh dan Darah-Nya sendiri. “Akulah Roti hidup dan barangsiapa percaya kepada-Ku tidak akan lapar dan haus lagi.”
Ada dua hal yang ditawarkan oleh Yesus, yakni percaya kepada-Nya dan makan serta minum Tubuh dan Darah-Nya. Itulah yang ditawarkan Yesus kepada mereka kalau mereka ingin cari keselamatan. Kalau itu yang mereka cari, me-reka sudah mencari sesuatu yang benar. Dan kalau mereka mencarinya pada Yesus, mereka pun sudah mencarinya ditempat yang benar. Namun, kalau mereka masih mencari hal-hal lain pada Yesus, mereka sesungguhnya mencari ditempat yang salah.
Yesus menantang kita mencari sesuatu yang benar ditempat yang benar pula. Jangan mencari keselamatan diluar Yesus, atau diluar rumah Bapa karena ke-selamatan yang sejati ada dalam Yesus “Inilah Tubuh-Ku, inilah Darah-Ku.” Melalui Injil hari ini kita juga diingatkan akan kehadiran dalam mengikuti Perayaan Ekaristi. Apakah kehadiran kita hanya sekedar menerima “roti kecil”, Sakramen Mahakudus. Yang penting komuni, maka tidak peduli datang terlambat dan pulang duluan. Yang penting sudah terima komuni. Apa tidak malu, ya? Udah datang terlambat, berisik lagi. Kalau umat menyanyi hanya diam saja. Yang lain berdoa, malah omong-omong dengan temannya. Saat Romo berkotbah dan kurang menarik, malah main HP. Semoga saja teguran atau sindiran Yesus hari ini menyadarkan kita semua.
Datang ke gereja kiranya juga perlu persiapan. Bukankah ada tujuh hari dalam satu Minggu, dan 24 jam dalam seharinya? Apakah waktu untuk Tuhan yang hanya satu jam per Minggu masih mau dipotong? Semoga kita berubah dan mengubah pola hidup kita dalam mencari Sang Sumber hidup sejati! (Magda, HK)
|