Link Ke Web Site Vox Angelorum

Warta Minggu, Sunday, August 09, 2009

Editorial | Bacaan Minggu Ini  | Artikel WM | Pengumuman WM |
Jadwal Prodiakon | Karikatur | Jadwal PPE |
 

NOBLESSE OBLIGE



Pernahkah terpikir Maria masuk neraka dan tidak diangkat ke surga? Mana bisa, tak mungkin begitu! Dia kan ibunda Putera Allah, martabatnya tinggi tak terhingga. Namun bagaimana jika sekiranya perbuatan-perbuatan Maria tidak mencerminkan luhurnya martabat itu? Bagaimana jika dia lalu tinggi hati, sombong, tak peduli, semena-mena, menindas dengan kejam; seperti perbuatan majikan terhadap TKW di tanah seberang, seperti penguasa di negeri ini yang tak peduli rakyatnya? Bisakah masuk surga? Perbuatan Maria selama hidupnya justru adalah kebalikannya, dia peduli: “kemudian berangkatlah Maria dan langsung … menuju … ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet” (Luk 1:39-40), dia rendah hati: “sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (ay. 48), mengakui bahwa Allah-lah yang berbuat semuanya itu (ay. 49-55). Dari peristiwa Kana, sepanjang jalan ke Golgota, dalam persekutuan dengan para rasul, dia selalu mendahulukan orang lain lebih dahulu daripada dirinya sendiri. Dia menjunjung martabat dirinya melalui perbuatan-perbuatan yang penuh tanggungjawab sejalan tugas perutusan Putera, dan bukan malah menyalahgunaannya. Almarhum Mgr. Leo Soekoto, SJ menyebutnya dengan istilah noblesse oblige (diucapkan: noblés oblish) : berperilaku/bertindak sesuai kemuliaan/keluhuran martabat diri.

Melalui baptis kita diangkat menjadi anak Allah, Kristus menyertai kita sampai akhir zaman melalui Ekaristi, Roh Kudus pun meneguhkan kita melalui Krisma. Inilah karya triniter yang menyertai keluhuran martabat anak Allah, martabat yang bukan main-main! Lalu apakah manusia menjaga keluhuran martabatnya dengan penuh tanggungjawab? Baik kalau begitu. Namun setiap hari kita masih tetap mendengar, membaca, melihat dan merasakan sendiri hal-hal sebaliknya. Bagaimana manusia menjadi tinggi hati, sombong, mau menjadi allah atas sesama dan lingkungannya, menyingkirkan Allah Pemberi Hidup. Mau berkuasa, menginginkan segala untuk dirinya sendiri, menghalangi hak hidup orang lain, merampas bumi dan seisinya. Di rumah menindas pekerja rumahtangga, di kantor menindas buruh. Masih belum puas, serakah tak terkira, lalu korupsi, mencuri pajak, menggusur rumah kumuh, menganggap itu semua haknya. Belum lagi meluncurkan segala gosip dan fitnah yang membunuh karakter se-sama tanpa bukti. Kalau sudah begini, apa bisa masuk surga? Hanya menganggap Baptis sekadar karcis masuk dan menuntut hak pasti masuk surga.

Adat istiadat selalu berkata agar menjaga nama baik, dan nama terbaik yang kita punya adalah anak Allah. Kalau nama baik diupayakan dijaga benar-benar – ironinya, pun jika melakukan hal-hal tak pantas di atas tetap ingin dianggap orang baik – maka apakah nama terbaik yang bermartabat mulia tidak perlu dijaga sekuat kuasa? Kalau kita ingin meneladan Maria, sadar akan noblesse oblige yang melekat pada baptisan kita, kita teruskan permenungan prapaska dengan menghayati dan menjalani hidup kita dengan penuh tanggungjawab sesuai martabat anak Allah yang dikaruniakan kepada kita.

(G.N. Aswin)