Setelah banyak pengikut Yesus bersungut-sungut karena merasa beratnya tuntutan Yesus terhadap mereka bila ingin menjadi pengikut-Nya, berpaling pada Petrus dan rasul lainnya.
Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”
Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (Yoh. 6:68-69)
Percaya adalah kata yang artinya sangat gampang dipahami. Namun percaya membawa konsekwensi. Percaya adalah menerima sesuatu sebagai kebenaran tanpa perlu pembuktian. Yesus menerima kita sebagai murid-Nya. Kita percaya bahwa Dia adalah jalan yang harus kita ikuti untuk mencapai tujuan kita. Dengan demikian kita dibaptis dan menjadi pengikutnya, menjadi orang Kristen. Akankah kita bersungut-sungut “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh. 6:60) atau bersikap seperti Petrus.
Almarhum Kardinal FX Nguyen Van Thuan - yang sekarang dalam proses beatifikasi,- gigih menjadi saksi Kristus termasuk selama 13 tahun di penjara pemerintahan komunis Vietmam, menulis sebuah buku kecil yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul ”Doa-doa Pengharapan” diantaranya terdapat tulisan tentang orang Kristen sebagai berikut:
”Setidak-tidaknya seorang Kristen adalah seorang yang dibaptis, dan mungkin telah menerima suatu tugas pelayanan dalam Gereja. Namun ada juga yang boleh disebut, orang Kristen setengah-setengah. Aku seorang Kristen setengah-setengah ketika aku tidak mempunyai kepedulian dan minat terhadap karya Gereja.
Aku seorang Kristen setengah-setengah ketika pilihan-pilihanku tidak rasional dan tidak pasti, ketika aku menjadi orang Kristen di kala situasi baik, ketika aku merasa kecut dan ragu-ragu untuk
mengabdikan diriku hanya karena takut akan kesulitan dan kegagalan.
Aku seorang Kristen setengah-setengah ketika aku licik dan siap untuk berkompromi dengan dosa, dan ketika aku tidak berani untuk mengatakan kebenaran.
Aku seorang Kristen sejati. Ketika aku mengarahkan pilihan-pilihanku kepada Tuhan, ketika aku hanya takut kepada Tuhan dan penghakiman-Nya.
Aku seorang Kristen sejati ketika aku menerima hujatan-hujatan, tuduhan-tuduhan yang tidak adil, kebencian dan penolakan, namun menolak untuk berkompromi dengan tuntutan-tuntutan yang tidak Ilahi.
Aku seorang Kristen sejati ketika aku mempertahankan pengharapan yang teguh, iman yang kokoh, dan cinta kasih yang gagah berani.
Jika aku bukan seorang Kristen 100%, sebutan Kristen hanya akan menarik semakin banyak salah pengertian dan kebencian pada Kristus dan Gereja, karena aku akan menjadi pewarta palsu.
(Rob. P.)