KEKUDUSAN : RITUALITAS YANG MEWUJUD
Dalam pertemuan-pertemuan di lingkungan kadang umat bertanya soal-keselamatan juga soal kekudusan, bagaimana hidup kita ditengah-tengah zaman ini dan bagaimana hubungannya doa (liturgi) dengan hidup serta panggilan kekudusan. Bahkan ada juga pertanyaan-pertanyaan yang “lucu” tapi memang itulah kenyataan kehidupan. Misalnya apakah kalau menerima komuni dengan lidah lebih suci dibanding menerima komuni dengan tangan kiri di atas?
Apa yang diungkapan umat dalam pertemuan tersebut merupakan pengaruh pemaknaan kekudusan zaman dulu. Artinya bahwa teologi dan penafsiran tentang sesuatu paham, misalnya kekudusan senantiasa berkembang. Karena pengaruh paham perjanjian lama seringkali paham ke-kudusan kerap kali hanya berhenti pada soal kesalehan. Melihat kekudusan hanya sebatas apa yang kelihatan, sebatas apa yang nampak. Orang itu baik karena kalau ke gereja sangat rajin, tidak ramai, khusuk, tidak terlambat, pakaiannya sangat “brukut” (rapi dan tertutup dengan baik). Hal ini sama dengan apa yang menjadi pergulatan Yesus dalam bacaan minggu ini.
Orang-orang Farisi sangat gerah de-ngan apa yang dilakukan oleh para murid karena mereka dianggap melanggar perintah nenek moyang mereka. Para murid mau makan tidak mencuci tangan dan tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh tradisi nenek moyang mereka. Orang-orang Farisi meyakini bahwa hal-hal ritual yang diajarkan nenek moyang mereka adalah pa-ling baik dan benar sehingga kalau orang tidak melakukan hal itu maka ia berdosa.
Bagi Yesus apa yang dibuat oleh orang-orang Farisi itu memang baik. Misalnya mencuci setelah bepergian. Mencuci per-alatan ibadah atau makan sebelum dan setelah digunakan. Membersihkan sarana yang dipakai dalam upacara-upacara nenek moyang. Itu semua baik dan benar. Yesus tidak menolak hal itu. Yang sangat ditolak Yesus adalah ketika manusia hanya berhenti pada hal-hal yang sifatnya ritual atau seremonial. Yesus mengajarkan bahwa apa yang seremonial dan ritual tidak pernah menjadi jalan keselamatan kalau tidak dilanjutkan dengan mewujudkan apa yang kita rayakan.
Membaca bacaan minggu ini saya menjadi semakin diteguhkan bahwa keselamatan tidak lain adalah perwujudan dari apa yang kita “upacarakan”. Orang-orang Farisi melihat bahwa keselamatan (kekudusan) adalah kalau kita melakukan ritual (upacara) sedangkan Yesus menegaskan bahwa keselamatan tidak lain adalah merayakan upacara yang disempurnakan melalui perbuatan (penghayatan). Sebab kita akan baru bisa dengan tepat wewujudkan kalau kita memulainya dengan melakukan sebuah upacara atau ritual. Ambil saja soal ekaristi misalnya. Ritual yang diajarkan Gereja tidak pernah akan menjadi jalan kese-lamatan kalau kita hanya berhenti hanya sampai pada ritual, melainkan harus disempurnakan dengan mewujudkannya dalam hidup
Contoh kecil, kalau masuk Gereja kita membuat tanda salib dengan mencelupkan jari ke dalam air suci dan kita menandai diri dengan tanda salib. Dulu saya diajarkan bahwa tanda salib pada dahi, dada dan bahu ada maknanya. “Tuhan kuduskanlah pikiranku, kehendakku dan perbuatanku agar aku layak berjumpa dengan-Mu”. Nah tanda salib pada dahi, dada dan bahu tidak pernah akan menjadi keselamatan kalau tidak kita wujudkan doa itu dalam perbuatan nyata. Maka kekudusan atau keselamatan akan terwujud kalau kita sungguh mewujudkan kekudusan itu dengan pikiran kita yang baik, perbuatan kita yang pantas sesuai dengan kehendak Allah dan disempurnakan dengan perbuatan yang sesuai dengan panggilan sebagai orang katolik. Maka tidak heran ka-lau kekudusan atau keselamatan itu tidak lain adalah ambil bagian dalam imamat Yesus: terlibat dalam gerak Yesus untuk mewartakan kebenaran, membangun pengudusan dan mewujudkan persekutuan. Keselamatan bukan soal melakukan ritualitas melainkan ritualitas yang kita wujudkan dalam perbuatan nyata sehari-hari. (Rm. Eko O.Carm)
|