MENJADI SERUPA DENGAN DIA

Ketika saya pindah dari Malang ke Jakarta banyak keterkejutan yang saya alami, khususnya dalam kehidupan berparoki, di MBK “under cover” itulah yang sering menggetarkan hati saya dan membuat diri ini menjadi gagap. Kalau sekedar hanya bertugas sebagai pastor yang mendapat SK Iuridiksi dari Uskup Jakarta dan sebatas mengelola paroki dalam hal ibadat, paguyuban, pelayanan dan pewartaan yang menjadi pilar kesaksian tidaklah berat, karena Dewan Paroki dan Umat akan menyempurnakan. Menjadi berat karena perjalanan dan berkarya di Jakarta adalah saya harus semakin menjadi imam Kristus.
Bacaan Minggu ini sangatlah menegaskan panggilan para murid untuk menjadi seorang murid yang semakin menyerupai sang Guru. Pertanyaan yang menarik ialah ketika Yesus mengatakan, menurut banyak orang siapakah Aku ini? Para murid mengatakan bahwa Engkau seperti Elia, seperti Yohanes Pembaptis atau salah seorang dari para Nabi. Orang-orang mengatakan bahwa Yesus seperti Elia, Yohanes atau salah seorang dari para nabi. Mereka mengatakan demikian karena melihat apa yang dilakukan oleh Yesus dalam karya dan hidupnya sehari-hari. Perbuatan Yesus sangatlah profetik, maka ia disebut seperti para nabi yang kehadiran-Nya memukau umat.
Sebagai seorang Guru Yesus memiliki tujuan bagi para muridnya. Hidup bersama dengan Yesus dan mengenal-Nya dimaksudkan agar para murid lebih dalam mengenal siapa Yesus. Lebih dari sekedar banyak orang mengenal Yesus. Maka Yesus bertanya, menurut kamu siapakah aku ini? Yesus ingin dikenal secara pribadi, lebih mendalam tidak sekedar apa yang kelihatan. Sebab bagi Yesus mengenal apa yang kelihatan tidak akan menjamin sebuah ke-setiaan seorang murid. Dengan bertanya menurut kamu siapakah Aku ini, dimaksudkan agar para murid lebih tahu pribadi Yesus dan gerakan Roh-Nya sehingga cintanya mendalam tidak hanya kagum pada penampilannya saja.
Mengapa seorang murid harus lebih mendalam untuk mengenal Sang Guru? Karena “perguruan Yesus” adalah perguruan Rohani, bukan sebuah perguruan yang sekedar memiliki sebutan murid, melainkan menjadi murid Yesus. Artinya menjadi pribadi yang semakin hari semakin menyerupai Yesus. Menyerupai Yesus berarti juga berani dan rela untuk menerima apa adanya Yesus, bukan hanya sekedar kehebatan sebagaimana dikatakan banyak orang: engkau seperti Elia, seperti Yohanes, atau salah seorang nabi, melainkan juga berani mene-rima “jalan salibnya” sebagai konsekuensi seorang nabi dan utusan Allah. Konsekuensi inilah yang kemudian ditawarkan kepada para murid-Nya dan mereka menegaskan tawaran itu dengan mengimani: Engkaulah Mesias, anak Allah.
Yesus sebagai Guru menyadari bahwa konsekuensi kemuridan tidak mudah, karena kalau sudah menyangkut salib banyak orang tidak mudah untuk setia. Dengan kehadiran bersama para murid, mengenal secara pribadi, bahkan mengenal kedalam rohaninya, para murid akan tergerak oleh “jiwa” Yesus yang telah menjiwai mereka. Dengan berani menjiwai hidup Yesus maka apapun yang dialami Yesus akan juga dihidupi dalam panggilannya sebagai seorang murid. Yesus mendidik para murid bukan sekedar mereka memiliki sebutan seorang murid, tetapi Yesus memilih mereka agar mereka sungguh sungguh menjadi seorang murid yang semakin hari semakin sejiwa, sepikir dan sekehendak dengan Yesus. Untuk sampai pada titik ini dibutuhkan sebuah pengakuan rohani, pengakuan imam: Engkaulah Mesias, Putra Allah. (Rm.Eko O.Carm)
|