MENJADI TERDAHULU DAN TERAKHIR

Ada cerita humor, alkisah seorang suster baru pertama kalinya naik kapal terbang berpesan kepada pilot pesawat, ”nak, pastikan saya terbang dan mendarat dengan selamat, ya!” Pilot pesawat pun menjawab dengan serius,” pasti,suster! Coba tanyakan kepada penumpang yang lain, apakah saya pernah meninggalkan penumpang di atas sana.” Dan kini giliran cerita serius, ketika terjadi kecelakaan pesawat di AS bulan Januari 2009 lalu. Pilot Chesley B “Sully” Sullenberger III, kapten pilot pesawat Airbus A 320 maskapai penerbangan US Airways menjadi orang terakhir yang menyelamatkan diri keluar dari pesawat. Setelah memastikan diri semua penumpang berhasil diselamatkan, akibat pesawat mendarat darurat di atas sungai Hudson karena mesin pesawatnya kemasukan burung yang banyak beterbangan di atas lapangan terbang Dulles Airport, Washington DC. Kapten pesawat biasanya menjadi masuk terlebih dahulu dan meninggalkan pesawat paling akhir manakala terjadi kecelakaan. Demikian juga dengan kapten kapal laut.
Langkah Sully itu mendapat pujian dunia, khususnya media Indonesia sehubungan dalam waktu yang sama terjadi kisah memalukan. Yaitu ketika terjadi kecelakaan laut di Pulau Bawean, utara pantai Jepara, Jateng, di mana kapal Permata Prima O tenggelam karena kelebihan muatan. Kapten kapal justru merebut pelampung penumpang dan menyelamatkan diri terlebih dahulu, meninggalkan puluhan penumpangnya hilang tenggelam (sekitar 80 0rang). Adegan nista ini dilihat penumpang yang selamat dan diceritakan kepada wartawan. Akhirnya kapten kapal itu diadili oleh pengadilan Negara.
Ketika dihubungkan dengan bacaan Injil minggu ini tentang jawaban Yesus kepada murid-murid-Nya yang sedang berteng-kar merebutkan gelar siapa yang terbesar di antara mereka? Bagi Yesus mereka yang terbesar adalah mereka yang terdahulu dan menjadi terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan dari semuanya. Kiasan ini menjadi aktual kalau kita hubungkan dengan situasi sekarang, dimana dalam setiap profesi semua orang tanpa malu-malu lagi bahwa dirinya lah yang “terbesar” diantara teman-teman seprofesinya. Apalagi menjelang Presiden SBY menyusun anggota kabinetnya, banyak “pahlawan” kesiangan menyodor-nyodorkan diri minta jabatan. Tidak usah menteri, jadi komisaris-komisaris independent BUMN pun jadi. Atau bahkan jadi “tukang pukul” pun, ayo! Istilah wartawan yang berada di seputar SBY kini muncul rai gedheg, muka-muka tembok alias tak tahu malu demi sebuah jabatan.
Sungguh, kalau ingin “jabatan” dengan ksatria di mana saja kesempatan itu terbuka lebar. Termasuk dalam karya pelayanan tidak usah kita berebutan menjadi siapa paling berjasa? Sebab yang menilai adalah orang lain. Memang susah untuk menjadi terdahulu dan terakhir. (IG. Sunito)
|