BELAJAR UNTUK TAKUT!

Mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita bukanlah perkara gampang. Dan harus kita akui bahwa pemahaman kita akan Allah yang adalah Kasih menghadirkan tantangan dalam Injil Minggu ini (lih. Mrk 9:38-43.45.47-48). Kasih diungkapkan dalam sikap sabar, lemah lembut, dan tidak pemarah yang mendatangkan kebahagiaan serta kedamaian dalam hidup (bdk. 1 Kor 13:4-7). Namun apa yang kita dengar dari Yesus tampaknya tidak melambangkan Kasih. Pernyataan Yesus terdengar sangat keras dan kejam. Salah satunya Ay. 43 yang berbunyi: ”Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; ...”
Mengapa Yesus berkata demikian kerasnya? Sudah tertutupkah pintu pengampunan bagi orang berdosa? Apakah pewartaan Yesus tentang kebahagian kekal hanyalah ”candu” yang meninabobokan kita seperti yang diyakini Karl Marx ketika memaknai peran agama bagi manusia?
Saudara yang terkasih, inilah Sabda Allah. Inilah Yesus yang kita imani. Justru hari ini, kita melihat Yesus yang sangat mengasihi kita. Lewat pernyataan keras-Nya, Yesus tidak mengharapkan kita mengalami keabadian neraka. Pilihan kata yang diungkapkan Yesus mengandung misi yang meminta perhatian khusus dari para muridnya, bahkan bagi kita yang hidup di era digital ini. Dengan kata lain, kita diajak untuk senantiasa ingat akan Sabda-Nya yang Ia sampaikan dengan nada dan makna yang keras.
Ada dua hal yang menjadi perhatian khusus dalam hidup ini. Yang pertama adalah kurangnya kesadaran kita dalam berperilaku. Apalagi kita yang membuka diri untuk menjadi pengikut-Nya. Sabda Allah tidak semata untuk dihapalkan, namun disadari sehingga Sabda Allah menjadi roh/dasar dalam keseluruhan penghayatan hidup. Yang kedua adalah diabaikannya tindakan dosa sebagai suatu hal yang merusak, merugikan, dan harus dihindari. Banyak contoh realita hidup yang memperlihatkan bahwa kejahatan mengalir seirama, bahkan lebih deras daripada kebenaran. Pemberitaan media cetak dan elektronik menunjukkan betapa biasanya tindakan dosa bagi manusia. Dosa bukan hal yang patut ditakuti. ”Toh masih ada sakramen tobat. Toh hanya dipenjara beberapa tahun. Yang penting aku sudah bisa menikmati korupsiku”.
Kita harus jujur bahwa hidup kita kerap kali dinaungi ketidaksadaran yang mengantar kita untuk melakukan dosa sebagai suatu kebiasaan. Runyamnya, kita juga tidak jarang mengajak orang lain untuk berbuat dosa dengan bergosip ria/memfitnah atau juga dalam tindakan yang nyata (mencuri, berdusta, melekatkan diri pada sikap dendam dan hal-hal duniawi lainnya). Sangatlah wajar jika hari ini Yesus menyampaikan pernyata-an yang sangat keras supaya kita sadar dan serius menanggapi masalah dosa.
Apakah keselamatan kekal masih menjadi kerinduan kita dewasa ini? Jika kita menjawab ya...penyadaran dan pembaharuan diri dalam sikap tobat atau takut akan dosa adalah satu-satunya jalan untuk meraihnya. Selamat menghayati, Tuhan memberkati kita semua! (Agis)
|