
Injil hari Minggu ini mempertentangkan dua hal yang sangat kontras. Menarik mengamatinya dalam konteks kehidupan kita sehari-hari di masa kini. Ada orang buta, tersingkir dan tertindas, dianggap orang berdosa sehingga memperoleh kecacatan itu, terbelenggu dalam keterbatasannya. Banyak orang di sekitar kita sekarang ini dalam kondisi serupa, terbelenggu dalam kemiskinan, dianggap malas, salah sendiri, tak punya kesempatan untuk memupuk kepandaian, hanya dianggap sampah tak berguna yang makin diinjak-injak lalu disingkirkan dengan paksa, tak punya peluang untuk memerdekakan diri dan menjadi mandiri secara fisik ataupun psikis. Di pihak lain ada orang-orang, juga pengikut Yesus, yang tak mau memberi perhatian, tidak pe-duli, bahkan memarahi dan mungkin memaki-maki si buta karena merasa sangat terganggu keberisikan teriakannya. Namun ada juga Yesus yang tertarik perhatian-Nya kepada si buta, dan lihat proses selanjutnya! Timbul empati-Nya, merasa peduli akan nasib sesama, lalu mengambil sikap dan menyuruh memanggil si buta. Kata-kata-Nya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” (ay. 51) menunjukkan pula suatu cara berpikir, bersikap, bertindak dan berelasi yang pas untuk orang itu, tidak demikian saja menjejalkan keinginan-Nya sendiri.
Kalau dikaji seluruh pola proses yang dilakukan oleh orang-orang dan pengikut Yesus, serta Yesus sendiri, maka itulah yang disebut habitus: “suatu gugus insting yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang” (Nota Pastoral KWI 2004, catatan akhir 1). Maka bandingkan kedua habitus yang diceritakan dalam Injil itu. Habitus orang-orang dan pengikut Yesus adalah habitus lama, sedang Yesus mengajarkan habitus baru melalui suatu pola proses yang berlawanan.
Dalam Nota Pastoral KWI 2004 para Uskup mengajak kita semua untuk memahami dan menapaki habitus baru bangsa ini menuju kepada suatu keadaban publik yang diharapkan akan membuahkan keadilan sosial bagi semua. Sadar atau tidak, sedikit atau banyak, kita semua punya andil dalam hilangnya keadaban publik dengan segala bentuk KKN, dalam kehancuran lingkungan, dalam merendahkan martabat sesama manusia (termasuk aborsi), ketidakjujuran, keserakahan, ketidakadil-an, dan lain-lain. Habitus lama seperti ini disadari telah membuat bangsa dan negara ini terpuruk. Orang makin tak peduli akan sesama, apalagi yang miskin papa, lebih baik disingkirkan daripada mengganggu. Orang menjarah lingkungan seenaknya untuk keuntungan pribadi. Setiap tahun 2 juta bayi digugurkan di Indonesia, dan lain-lain. Habitus baru memperhatikan dan menjangkau mereka yang tak tersapa, tidak mementingkan diri sendiri, menghadirkan prinsip gembala yang baik seperti yang diminta Bapak Kardinal. Dengan demikian pengalaman beragama kita bukan sekadar seremonial dan ritual belaka, tetapi benar-benar menyentuh dan bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Di lain pihak menjadi pengalaman iman yang makin berkembang sebagai murid Kristus. Anda mau pilih mana? Tetap ber-habitus lama atau benar-benar ikut Yesus ber-habitus baru? (G.N. Aswin)
|