Hidup: Perjalanan Mempersembahkan Diri
Pertanyaan tentang akhir zaman merupakan pertanyaan yang sejak dulu pernah juga dipertanyakan, minimal kalau kita menyimak bacaan pertama dalam minggu ini (Kitab Daniel 12:1-3) maupun dalam Injil (Mrk 13:24-32). Pertanyaan yang sama juga menjadi kegelisahan kita zaman sekarang. Maka tidak heran kalau ada isu-isu soal kiamat sangat menarik dan sangat merisaukan banyak orang. Boleh-boleh saja kita mengandai-andai bahkan meramal-ramal, namun sebagaimana Yesus katakana bahwa:”tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Putera pun tidak, hanya Bapa saja”.
Daniel sebagai nabi Allah dalam menjawab persoalan umatnya tentang akhir zaman memberikan gambaran bahwa memang “kehancuran” atau tepatnya akhir hidup manusia di bumi ini akan terjadi, namun tidak perlu takut sebab maksud semula Allah tidak pernah menghancurkan manusia melainkan memuliakan. Hanya bagi mereka yang memahami, melakukan dan hidup sekehendak dengan Allah Yahwe maka mereka akan selamat. Setiap orang yang namanya tercatat di dalam buku kehidupan akan hidup bersama Allah dalam kemuliaan. Tercatat dalam buku kehidupan artinya peristiwa-peristiwa hidupnya, tingkah lakunya, perbuatannya bahkan kata-katanya dan tindakannya sehari-hari memang mengungkapkan kehidupan bukan kematian. Kalau yang kita wujudkan dalam hidup ini kehidupan, maka Allah akan mencatat dalam buku kehidupan. Tetapi kalau yang kita lakukan senantiasa membawa kematian (hati nurani) misalnya kebohongan, keserakahan, kedengkian dan sejenisnya kita sudah sejak awal mencatatkan diri kita dalam buka “tabungan masa depan” ya dalam kolom kematian.
Sebagai penulis Injil, Markus pun mencoba merenungkan amanat Yesus dalam menjawab persoalan “kiamat” (kematian) kita semua. Sebagai penulis Injil Markus menyampaikan ungkapan akhir hidup manusia di bumi dengan perumpamaan yang sangat “material”. Intinya bahwa kematian atau akhir zaman itu adalah kegelapan, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bersinar lagi. Dengan ungkapan-ungkapan simbolis (situasi dan tata cara berbahasa zaman itu) Markus ingin menunjukkan bahwa perjalanan di dunia ini tidak selamanya akan kekal. Namun manusia dipanggil untuk mencapai kesempurnaan. Sebagai penegasan bahwa kesempurnaan dan keselamatan itu penting, Markus memberikan gambaran yang terbalik bahwa betapa dahsyatnya kematian tersebut. Katekese Markus mengharapkan bahwa kita semua dalam hidup ini senantiasa menyadari bahwa kalau hidup kita dalam kegelapan (sekedar mengikuti kehendak daging, bukan rahmat Tuhan) kita akan masuk dalam kegelapan.
Meski demikian Allah senantiasa peduli. Maka manusia diberi kesempatan dalam perjalanan di dunia ini untuk membangun dan menyiapkan kehidupannya sesuai dengan pilihan dan panggilannya masing-masing. Markus mengingatkan bahwa yang menentukan kita di surga atau dalam kegelapan adalah pilihan dan sikap hidup kita sendiri. Kesetiaan pada kehendak-Nya itulah yang menjadi jalan kehidupan kita. Allah yang adalah Bapa senantiasa memberikan rahmat. Rahmat dari Allah yang senantiasa baru setiap hari hendaknya kita kelola dengan baik. Allah juga memberikan tanda-tanda kepada kita sebagai manusia untuk senantiasa menyiapkan diri. Seperti ketika ranting mulai melembut dan bertunas maka musim semi pun akan datang. Artinya bahwa kehidupan kita sebagai manusia juga senantiasa dalam kondisi bersiap dan selalu bersiap karena panggilan pada kemuliaan bersama Allah tidak bernah bisa kita deteksi lebih awal.
Persoalan yang muncul dalam kehidupan iman kita adalah bagaimana kita sebagai orang-orang beriman dalam menghadapi kehidupan ini. Sebagai sebuah refleksi kiranya kita harus berani membuat keputusan bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan. Bagi kita bukan perjalanan untuk menuju kepada kematian melainkan perjalanan diri untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Allah. Hidup adalah sebuah perjalanan untuk mempersembahkan diri kita sesuai dengan panggilan kita masing-masing kepada Bapa dalam kesetiaan kita masing-masing pula. Sebagai orang katolik kita tidak bisa lari dari kenyataan hidup. Perkembangan zaman dan situasi kongkrit zaman tidak bisa kita hindari dan senantiasa hadir setiap saat dalam kehidupan kita. Sebagai orang-orang yang sudah dikuduskan oleh Kristus dalam sengsara dan wafatnya, kita dipanggila untuk siap menghadapi kehidupan ini tanpa kehilangan kehidupan bersama Kristus. Artinya sebagai orang katolik kita siap menghadapi kenyataan hidup sehari-hari apapun yang terjadi tetapi tidak kehilangan kesetiaan kepada Allah. Hal ini tidak mudah, butuh latihan rohani untuk diri kita masing-masing.
Lalu apa yang mesti kita buat? Karena hidup menyangkut perjalanan menuju kemuliaan kita membutuhkan bekal. Bukan emas atau perak, juga bukan makanan dan uang kita. Perjalanan mempersembahkan diri kepada Allah yang kita bahwa adalah hati yang semakin diubah oleh Allah sendiri. Kita bisa belajar dari sebuah teko (tempat menuangkan minum). Kalau teko diisi teh maka keluarnya adalah teh. Hidup juga sama. Kalau kita mengelola belas kasih maka yang akan meluber dari hati kita juga belas kasih. Kalau yang kita bawa dalam hati kepeduliaan yang tertuang dalam hidup ya kepeduliaan. Tetapi kalau yang kita kelola dalam hati keserakahan yang meluber juga keserakahan, demikian juga kalau yang kita kelola kebohongan yang meluber juga kebohongan. Persembahan diri kepada Allah adalah hati yang meluberkan kehendak Allah. Paulus menegaskan bahwa jalan ke surga kalau kita mewujudkan buah-buah Roh dalam kehidupan ini. (Rm.Eko O.Carm)
|