Link Ke Web Site Vox Angelorum

Warta Minggu, Sunday, November 22, 2009

Editorial | Bacaan Minggu Ini  | Artikel WM | Pengumuman WM |
Jadwal Prodiakon | Karikatur | Jadwal PPE |
 

MENCARI SAKSI KEBENARAN



Kebenaran merupakan kata yang sudah menjadi komoditas dimana-mana dan sangat mudah diucapkan tetapi sulit dibuktikan. Contohnya,  masyarakat dibuat bingung memahami dimana kebenaran itu berada dalam berita panas tentang pembunuhan Nasrudin, Direktur Grup Rajawali, ataupun cerita perseteruan high profile cicak lawan buaya , antara Bibit-Chandra (KPK)  versus Susno (Kepolisian). Tak mau kalah pamor dengan Mahkamah Konstitusi maka DPR juga menggelar pernyataan berbeda dengan kebenaran yang diterima masyarakat luas. Huh...kami orang biasa tambah kacau lagi karena melibatkan orang sangat kaya bernama Anggoro dan Djoko Chandra. Bahkan mereka telah raib kenegeri seberang. Mungkinkah kebenaran telah diperjual-belikan? Jadi siapakah atau pihak manakah yang benar? Entahlah....

Bacaan Yoh 18:33-37 terasa up to date dan relevant sebagai penuntun hidup dalam situasi dan kondisi sekarang. Yesus dalam dialognya dengan Pilatus yang terkenal kejam mengatakan, ”.... Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Wow, luar biasa sekali. Yesus sejak 2000 tahun lalu telah mengingatkan dengan kalimat ini bahwa mencari kebenaran bukan perkara mudah. Kebenaran sejak jaman dulu sampai sekarang sudah diperjual belikan demi kekuasaan, uang, popularitas maupun kenikmatan. Langsung sahabatku dari dalam menjerit, ”Kayak sampeyan, mas, sering ngotot menganggap diri sendiri paling benar ya....” Merasa diserang aku balas jawab, ”Lho bagaimana caranya kalau boleh beda pendapat tetapi nggak berantem. Kan sulit dang ding dong...” Dengan enteng dipatahkan bantahan saya, ”Setiap orang yang berasaldari kebenaran mendengarkan suara-Ku. Yesus adalah kasih.  Kasih itu lemah lembut. Jadi kalo lagi bad mood coba tarik napas sebentar dan dengarkan suara Yesus biar debatnya lebih tenang karena bermaksud mencari solusi terbaik. Bukan marah sampeyan dibiarkan merajalela...he..he.”

Setelah termenung-menung nggak bisa omong mendapat teguran dari hati nurani, timbul kesadaran bahwa aku juga bagian dari masyarakat yang sedang eforia (senang berlebihan karena mendapat sesuatu) menikmati alam demokrasi. Seringkali beranggapan bahwa pendapat orang banyak adalah kebenaran sejati. Aku mengumpulkan gang, kelompok, untuk mendukung agar ”kebenaran” yang diperjuangkan bisa berhasil. Seandainya aku murid Yesus sejati, tentunya menyadari bahwa kebenaran yang dituntut harus bersandar sepenuhnya kepa-da Yesus. Bukan untuk kehebatan, popularitas maupun kekuasaan yang menimbulkan perpecahan antar kelompok. Kita semua adalah  anggota tubuh mistik Kristus dimana Kristus, Raja Alam Semesta, adalah kepala. Mungkin saja aku berbeda pendapat dengan banyak orang dan aku tetap di komuntas tanpa harus kesal hati, mutung, lalu me-ngundurkan diri. Tuhan, mampukan aku mendengar suara kebenaran dari-Mu sehingga  membawa kasih dan damai kepada semua orang. Amin.

(JA Gianto)