Link Ke Web Site Vox Angelorum

Warta Minggu, Sunday, January 10, 2010

Editorial | Bacaan Minggu Ini  | Artikel WM | Pengumuman WM |
Jadwal Prodiakon | Karikatur | Jadwal PPE |
 

KASIH YANG TAK BERKESUDAHAN



Ketika kehilangan orang tua, maka perasaan pertama yang keluar selain kehilangan juga cinta orang tua itu bak kasih yang tak berkesudahan. Ingat menjelang Natal 50 tahun lalu ketika usiaku umur anak SMP, seorang teman baikku, yatim piatu sejak kecil dan waktu itu harus ngenger (ikut induk semang) mengeluh. Gara-gara bangun kesiangan, diomelin induk semangnya sambil dicerca, “Kalau kepengin enak, sana, ikut bapak biyangmu sendiri!” Lalu, ia menunjuk saya, “Kamu pasti enak ya? Di sana pasti ada kasih yang tak berkesudahan.” Ucapan temanku itu memang terbukti. Ikut orang tua itu memang paling enak di dunia. Buktinya anak-anakku, semua bangsawan, bongso tangi awan, bangun kesiangan bukan takut diomelin malah ngomelin. Sampai berumahtanggapun masih tetap manja. Kami orang tuanya tak keberatan, karena sebagai orang tua sepertinya kasih itu tak berkesudahan, terutama kepada cucu.

Berbicara tentang kasih yang tak berkesudahan dalam konteks sekarang adalah tindakan nguwongke, mengorangkan orang, manusia dan kemanusiaan. Kebetulan kita baru saja kehilangan seorang tokoh besar bangsa yang sangat terkenal nguwongke, Gus Dur. Sekalipun hanya dua tahun menjadi presiden ke-4
RI, begitu banyak perubahan yang dia lakukan terutama tindakan kemanusiaannya.
Contoh jelas mencabut PP No.14/1967 yang melarang apa saja yang berbau Tionghoa yang sudah berlaku selama 32 tahun di bumi Indonesia. Mengusulkan pencabutan TAP MPRS No XXV/1966 tentang pelarangan penyebaran Marxisme/Leninisme/Komunisme. Atas nama pemerintah meminta maaf kepada para korban yang dituduh Komunis dan terbunuh maupun terpenjara, terbuang tanpa pengadilan. Dan masih seombyok  lagi dan terlalu panjang jika disebut satu per satu. Seorang manusia komplit, tokoh agama yang menjunjung tinggi pluralisme, pembela kaum minoritas, penentang kekerasan (terlebih bakar-bakaran tempat ibadah), pemimpin politik, penganjur damai, dst,dst.

Kepergian orang besar seperti dia, menciptakan kekosongan eksistensial bukan saja buat orang terdekat, tetapi siapa saja terutama pengagumnya. Banyak tulisan maupun komentar berseliweran melalui media, yang semuanya tak ada cacatnya. Apalagi kalau kita baca laporan dari The Wahid Institut 2009, bahwa tahun 2010 masih akan terjadi kegamangan kehidupan beragama dan kepercayaan di Indonesia. Kekosongan eksistensial itu seperti menujuruang hampa“, untuk menunggu siapa gerangan yang akan tampil ke depan mendatang? Tokoh yang benar mendedikasikan hidupnya bagi Indonesia yang pluralistik dan demokratis. Memang, kita tidak perlu khawatir, Gus Dur telah mempengaruhi banyak santri muda untuk berpikir maju.  

Kita baru saja merayakan Natal 2009, bukan Natal kalau tanpa suatu hadiah. Judi Latif, intelektual Islam menyambut Natal bagus sekali. Hadiah terbesar itu adalah CINTA, obat bagi yang sakit, tertimpa kegelapan, harapan dan kebuntuan (Kompas 28/12/09). Disebut secara jitu bahwa cinta adalah Christian Compassion, mendorong tindakan-tindakan etis kemanusiaan. Ketahanan daya cinta mampu menjaga napas kebangsaan. Gus Dur melewati hari-harinya dengan ceria meski derita segala macam penyakit, karena ada cinta. Bagaimana dengan kita?

(IG.Sunito)