Link Ke Web Site Vox Angelorum

Warta Minggu, Sunday, March 28, 2010

Editorial | Bacaan Minggu Ini  | Artikel WM | Pengumuman WM |
Jadwal Prodiakon | Karikatur | Jadwal PPE |
 

Kemuliaan itu Nyata


Perjalanan pastoral dan pendampingan umat sebagai seorang imam semakin tersentak ketika saya harus menjelaskan soal iman akan kebangkitan dan kehidupan, ketika berhadapan dengan orang yang sedang mengalami kehilangan orang yang dicintai karena dipanggil Tuhan. Meski iman kita jelas bahwa hidup tidak pernah akan berakhir hanya diubah dari kefanaan kepada kebakaan, untuk orang yang sedang mengalami peristiwa kehilangan tidaklah mudah.  Dalam kondisi seperti itu saya lebih banyak mendengarkan dan memberi peneguhan untuk tetap membangun rahmat kesetiaan kepada kehendak Allah.

Peristiwa Yesus menampakkan kemuliaan di puncak gunung kiranya juga akan menegaskan hal yang sama bukan dengan kata-kata melainkan dengan tanda. Para murid tidak pernah mampu untuk memikirkan soal kerajaan Allah, di mana kemuliaan akhir zaman ada dan nyata. Maka ketika Yesus menubuatkan soal akhir zaman dan Kerajaan Allah, Petrus menolak dengan keras. Akibatnya Yesus begitu kecewa pada Petrus karena ternyata Petrus sebagai murid-Nya hanya memikirkan keuntungan sendiri dan tidak melihat panggilan Allah akan kemuliaan.

Peristiwa Yesus menampakkan kemuliaannya kepada para murid-Nya tidak lain ingin menunjukkan mahkota hidupnya yang tetap konsisten dengan kehendak Allah. Keutuhan dan kesatuan dengan Bapa-Nya dalam kesetiaan-Nya berbuat pada kemuliannya. Ini menarik karena peristiwa penampakan diletakkan setelah peristiwa penyangkalan Petrus akan kedatangan Kerajaan Allah. Bagi Yesus ingin menegskan bahwa apa yang telah disabdakan dan dinubuatkan, meski secara manusiawi cukup berat, ada buahnya. Kesetiaan pada kehendak Allah dalam keterpurukan sekalipun ketika dijalankan dalam iman akan membuahkan hasil, yaitu kemuliaan bersama dengan orang-orang yang sudah mulia (Musa dan Elia). Penulis ingin memberikan ketegasan bahwa menjadi seorang murid tidak hanya mencari dan maunya yang enak-enak terus. Menjadi seorang murid adalah kesiapan untuk bersama Yesus dalam jalan salib sebab buah-buah kesetiaan pada salib adalah kemuliaan bersama orang-orang kudus.

Peristiwa kemuliaan Yesus di puncak gunung selain menegaskan bahwa kemulian merupakan hal yang nyata ketika orang berani menjalani imannya dengan setia juga ingin menegaskan secara pastoral bahwa Gereja sebagai murid-murid Kristus juga mengarah ke sana. Karena apapun alasannya panggilan kita sebagai Gereja adalah panggilan perutusan dalam karya pengudusan bersama dengan Allah.

Dalam konteks hidup menggereja, sebagai murid-murid Kristus kita juga diapnggil menuju kemuliaan Kritus. Atas dorongan Kristus dan desakan Roh Kudus dalam doa dan perbuatan kita sebagai murid-murid Kristus dipanggil untuk menuju kemuliaan. Hari demi hari, waktu demi waktu dalam perjalanan kesejarah kehadiran Gereja adalah kehadiran yang membawa dunia pada puncak kemuliaan bersama Kristus sehingga pada akhirnya dunia berjumpa dan bersama dengan para kudus di surga. Sebagai Gereja yang berziarah bersama dan dalam dunia kita dipanggil untuk menuju gunung kemuliaan bersama dengan Kristus, Musa dan Elia.

Dalam kehidupan sehari-hari hal ini dimungkinkan. Gereja telah memberikan aneka cara, salah satunya adalah hidup dalam sakramen. Sakramen-sakramen yang ditumpahkan bahkan meluber untuk kita nikmati tidak boleh hanya berhenti pada suatu ritual, melainkan harus mampu sampai pada tingkat menghidupi dan menjadi jiwa kehidupan kita. Hidup dalam sakramen artinya bahwa sepanjang hidup kita hendaknya selalu dalam kondisi dikuduskan bersama dengan Allah. Dalam kondisi manusia lama kita telah diberi rahmat baptis untuk menju kebersamaan dalam perjamuan dengan Tuhan melalui ekaristi. Kita diberi kekuatan untuk menjalani peziarahan ini. Dalam situasi jalan yang penuh tantangan dan butuh kepastian pilihan kita dikuatkan dengan sakramen Krisma. Melalui sakramen tobat kita diajak semakin bersama dengan Allah yang empunya kehidupan. Perjalanan menuju puncak kemuliaan menjadi semakin jelas ketika sakramen-sakramen Gereja kita hidupi dan kita jadikan kesempatan untuk menghidupi perjalanan kita di dunia ini.

(Rm.Eko O.Carm)