Bersatu dalam Kasih Allah

 Leo Hendrata - KKS  |     11 Sep 2016, 11:06

Bangsa Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Rakyat Indonesia hidup di dalam berbagai macam keberagaman, baik itu suku, agama, budaya, dan sebagainya. Di masa penjajahan, meski berbeda-beda, semua rakyat Indonesia merasa satu perjuangan bersama, yakni kemerdekaan.

Bersatu dalam Kasih Allah


Semangat kesatuan dan persatuan inilah yang kemudian dikokohkan dalam Pancasila sebagai dasar negara, khususnya dalam sila ketiga dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun, sampai sekarang, bangsa Indonesia masih berjuang untuk mewujudkan persatuan tersebut. Konflik yang dipicu oleh aneka perbedaan sering terjadi. Konfik ini pun mengancam semangat persatuan dan kebersamaan tersebut.

Dalam pertemuan kedua Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) ini, kita diajak untuk belajar dari nubuat Yesaya (11:1-10) yang ketika itu bangsanya juga sedang ketakutan akan serangan kerajaan Asyur, dan memimpikan sebuah kerajaan damai yang dipimpin oleh seorang raja yang disertai Roh Tuhan yang terdiri dari enam roh yang saling berpasangan: roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan serta roh pengenalan dan takut akan Allah (11:2-3a).

Raja yang "diurapi" Tuhan ini, sebagai Mesias Raja (ay.1), pada intinya akan memerintah dengan tiga prinsip ini: keadilan, kebenaran, dan kesetiaan. Mesias Raja tersebut menjadi wajah Allah yang diwakilinya. Sifat Allah yang memperhatikan dan mengasihi orang miskin, terlupakan, dan tertindas terwujud.

Dengan Mesias Raja tersebut, persatuan, kedamaian, dan keharmonisan akan terjadi seperti dalam Taman Eden sebelum manusia pertama terbentuk. Berbagai binatang buas dan jinak hidup bersama manusia dengan damai tanpa adanya ketakutan saling membunuh (Ayat 9). Kerajaan Damai di bawah pemerintahan Mesias Raja ini akan menarik bangsa-bangsa lain untuk tinggal dalam Kerajaan itu (Ayat 10).

Meskipun nubuat Yesaya ini diperuntukkan untuk bangsanya pada zamannya, tetapi makna dan pesan dari nubuat itu juga relevan untuk bangsa Indonesia. Situasi dalam negara kita ini rentan terhadap perpecahan. Banyak suku bangsa, bahasa dan beragam agama yang setiap saat bisa menimbulkan pertikaian akibat pemahaman hidup dan keadaan sosial yang berbeda.

Kokohnya persatuan dan terwujudnya kedamaian yang nyata dari suatu bangsa atau komunitas sangat tergantung pada pemimpinnya dan bangsa yang dipimpinnya. Sudahkah kita berkontribusi nyata dalam membangun persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa Indonesia ini?

Lihat Juga:

BKSN (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 15 November 2019

Hari Biasa Pekan XXXII Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama ....

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi