Berempati Kepada Yang Belum Beruntung

  20 Aug 2010, 18:02

Kebetulan hari Minggu (2/5/010) kami mengikuti Misa di paroki tetangga, sebelum misa pastor membacakan ujud syukur dari sekolah Katolik di wilayah itu yang lulus 100 prosen. Namun ada tambahan kata sebuah sindiran sinis terhadap sekolah yang tak mampu meluluskan 100 prosen muridnya. Kita ingat minggu ini ada ulangan Ujian Nasional, UN SMU, sepatutnya pula kita mengiringi doa mengantarkan mereka yang mengikuti UN, mungkin banyak murid di sana yang berasal dari anak-anak saudara seiman. Siapapun yang pernah mengenyam pendidikan, pasti pernah merasakan mengalami kegagalan, bagaimana galau kita?

Pekan lalu masalah UN ini menjadi topik hangat pembicaraan masyarakat. Jumlah lulusannya merosot dibanding 2009 (76.3%: 95,1 %). Pemerintah cq Menteri Pendidikan mengatakan akibat ketatnya pengawasan, pertanda kejujuran meningkat. Mungkin, pernyataan ini diinspirasi dari Yogyakarta di mana dikatakan oleh penguasa pendidikan di sana, bahwa merosotnya lulusan di daerah itu, karena sangat jujur. Ini bisa dipersepsikan bahwa daerah-daerah lain tidak jujur? Dan juga sangat aneh ada daerah yang jatuh pelajaran bahasa Indonesia. Sebelum melontarkan kata-kata sinis kepada yang tidak lulus, alangkah baiknya sekedar mengetahui kondisi lembaga pendidikan di sekitar kita. Contohnya, di daerah Kebon Jeruk saja, ada sekolah yang membuat macet jalan raya, jemputan mobil-mobil mewah antri sepanjang jalan arteri. Bayaran sekolah satu saja muridnya sebulan, bisa membayari 100 anak lainnya yang bersekolah di sekolah-sekolah sederhana di wilayah yang sama. Dari fakta ini, jelas kelihatan mutunya. Sementara ujian UN soalnya disamaratakan. Pantas saja di NTT malahan ada satu daerah tak mampu meluluskan 100 % muridnya.

Bahwa mutu UN masih bisa diperdebatkan, terbukti UN masih menjadi polemik sampai sekarang. Kita tidak ingin menambah pusing persoalan, karena kita juga bukan pakar pendidikan. Pemikiran kita sederhana saja, kita mengandaikan bahwa kita ini orang tua yang anak-anaknya belum beruntung di UN. Terlebih kalau kita berada di deretan mereka yang tak mampu, artinya segala daya upaya berusaha agar anak-anak kita untuk menjadi pandai. Alangkah terpujinya pula kalau kita ikut mendoakannya, meski hanya secara diam-diam saja. Sebuah upaya humanisasi dan ikut membuat iklim sebagai persiapan masa depan anak-anak kita jangan sampai terpolusi oleh kegemaran kita berwacana. Masing-masing punya keluarga dan anak-anak bukan? Ayolah kita saling menguatkan!

(ED)

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 29 November 2023

Hari Biasa Pekan XXXIV Kita bergerak menuju kediktatoran relativisme yang tidak menganggap apapun sebagai sesuatu yang definitif dan memiliki nilai...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi