Pilihan

  11 Feb 2017, 12:58

Hidup itu sebuah pilihan, begitu Dr. David Washington memberi judul bukunya: Life is a Choice. Ketika kita sudah memilih, maka kita harus konsekuen. Apa pun yang terjadi, baik atau buruknya.

Pilihan

Seperti yang dialami oleh JCST (Jackie Chan Stunt Team). Mereka memilih menggeluti profesi sebagai pemain pengganti alias Stuntman. Risikonya jelas, tidak terkenal, bayaran sedikit, cedera dan patah tulang dan mati jika salah antisipasi.

Para pemain pengganti setiap film yang dibintangi Jackie Chan ini bergabung sejak tahun 1977, 1979, 1982, 1984 dan seterusnya. JCST angkatan pertama telah 40 tahun bermain bersama Jackie Chan, dan mereka juga terus bertambah tua. Para pemain pengganti ini lalu membuat kejutan bagi Jackie Chan.

Mereka mengisahkan, untuk bergabung dalam JCST, harus mempunyai keahlian khusus, harus berani jatuh, dan berkelahi. Beda dengan sekarang, di mana dunia perfilman sudah maju dengan adanya komputer dan animasi, yang dipadu dengan kemajuan teknologi.

Dulu, ketika para pemain pengganti ini syuting bersama Jackie, mereka harus siap memainkan satu adegan tanpa diulang. Melompati pohon tinggi, atau jatuh dari ketinggian. Setiap kali adegan berbahaya dilakukan, sebuah ambulans selalu siap di lokasi syuting. Bisa dikatakan, mereka harus siap untuk kehilangan anggota badan setelah syuting film bersama Jackie Chan.

Semangat persaudaraan mereka yang tergabung dalam JCST ini tak pernah luntur. Loyalitas mereka sangat luar biasa. Jackie telah menganggap mereka saudara, sehingga tidak heran apabila sebagian royaltinya disumbangkan kepada JCST.

Sebuah video yang diunggah Jared Wan Feng Ti via Facebook lalu menjadi viral dan telah ditonton 9.562.922 pengunjung. Bahkan, huffingtonpost.com, mengangkat moment tersebut dengan judul, Jackie Chan Break Down In Tears After His Stunt Team Pays Tribute To Him.

"Brother, I appreciate all the opportunities you have given me," one member says through tears while addressing Chan, according to a Huffington Post translation. "Today so many people recognize me, Zhang Yaohua, because you took care of me along the way."

Mereka memilih tidak dikenal, memilih berkorban untuk sosok yang mereka anggap layak menjadi bintang. Pilihan itu berisiko, namun anggota JCST tidak salah pilih.

Pada 15 Februari, nanti umat paroki Tomang Gereja Maria Bunda Karmel (MBK) juga harus memilih dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta. Ikut memilih dalam Pilkada merupakan hak dan panggilan sebagai warga negara. Dengan ikut memilih berarti kita ambil bagian dalam menentukan arah perjalanan dan kelangsungan kehidupan daerahnya.


"Oleh karena itu, penting disadari bahwa pemilih tidak saja memberikan suara, melainkan menentukan pilihan dengan cerdas, bertanggung jawab, dan sesuai dengan suara hati. Kita yang punya hak suara janganlah Golput!" demikian seruan Ketua KWI Mgr. Ign Suharyo

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 7 Agustus 2020

Hari Biasa Pekan XVIII (Jumat Pertama Dalam Bulan) "Jiwa, yang telah dipersatukan dan diubah dalam Allah, bernapas di dalam Allah dengan pernapasan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi