Bahagia

  11 Mar 2017, 11:25

Bahagia itu sederhana, begitu judul koleksi foto-foto yang menggambarkan kebahagian yang ada di mesin pencari google. Foto human interest yang menggambarkan dua pasangan pemulung yang saling memberi ciuman mesra, saat mereka beristirahat di pinggir trotoar.

Beberapa waktu yang lalu, saat mengadakan perjalanan dinas ke kota Malang dan menginap di Hotel Tugu. Di salah satu ruangan persisnya di ruang The Sugar Baron Room, terdapat foto perempuan cantik berwajah sedih. Dia adalah Oei Hui Lan, putri konglomerat terkaya se-Asia Tenggara, Oei Tiong Ham.

Dinamakan ruang The Sugar Baron, karena untuk menghormati sang Raja Gula asal Semarang. Kisah Tragis Oei Hui Lan Putri Orang Terkaya di Indonesia ini dibukukan dengan judul yang sama. Hui Lan nyaris tidak pernah merasa kekurangan sejak lahir.

Namun, Hui Lan tidak pernah merasa bahagia. Meskipun sejak usia tiga tahun, dia sudah memiliki kalung intan 80 karat. Dia menjadi putri orang terhormat, saat ayahnya mendapat gelar kehormatan Majoor der Chinezen (1901), karena kekayaannya.

Di belakang istana Tiong Ham, ada kebun binatang, berisi antara lain kera, rusa, beruang, kasuari, dan lainnya. Kalau Tiong Ham kembali dari bepergian, ia selalu membawa hadiah untuk Hui Lan, yang spesial sepasang kuda poni dan sepasang anjing chihuahua.

Saat usianya belum genap 18 tahun, Hui Lan yang saat itu tinggal di Inggris dibelikan rumah di Wimbledon, yang luas lahannya hampir 2,8 ha. Ketika Hui Lan menyelesaikan kursus menyetir mobil, ayahnya langsung membelikan mobil Daimler Mini. Hui Lan bergaul dengan kaum Ningrat Eropa. Hari-harinya hanya diisi pesta dan pesta.

Sebelum meninggal dalam usia 103 tahun pada 1992, Hui Lan meninggalkan kalimat yang sangat menyentuh, "Haus kekuasaan membuat orang menderita. Kita seharusnya menghargai orang lain dan hidup ini. Harta bukanlah nyawa dalam kehidupan yang bahagia."

Selesai membaca kisah Hui Lan, saya jadi teringat almarhum ibunda Romo Liem Tjai Tie, OMI. Beliau juga mengajarkan, bahwa bahagia itu sederhana. Bahagia itu, kalau beliau bisa bangun pagi lalu membuat bakpao. Sebelum berjualan, dia mampir ke gereja Purbayan mengikuti misa pagi.

Siang atau sore hari kalau jualan bakpaonya sudah habis, dia kembali ke rumah menyiapkan adonan untuk jualan besok pagi, lalu mengajak anak-anaknya makan bersama. Itulah kebahagian keluarga, meskipun kadang dia sedih karena suaminya berpulang terlalu cepat, saat anak-anaknya masih kecil. Bahagia itu sederhana...

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 7 Agustus 2020

Hari Biasa Pekan XVIII (Jumat Pertama Dalam Bulan) "Jiwa, yang telah dipersatukan dan diubah dalam Allah, bernapas di dalam Allah dengan pernapasan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi