Merdeka Dan Merdesa

  17 Aug 2010, 17:41

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus suasana di kampung-kampung meriah dengan acara lomba-lomba maupun hiburan rakyat. Di antara yang paling seru adalah lomba panjat pinang, ditambah makan kerupuk. Khusus panjat pinang, teringat akan tulisan Romo Aloy Budi Purnomo Pr seperti cerminan Indonesia dewasa ini atau sindiran terhadap penguasa. Yaitu ekspresi tumbal, mereka yang di bawah selalu menjadi tumbal sekelompok kecil yang bertengger di atas. Menginjak-injak kepala-kepala dibawahnya. Sebuah ekspresi "tarian" di atas panggung dengan menginjak penderitaan orang, hasil yang diperoleh tak sebanding dengan pengorbanan yang di bawah. Makan kerupuk meski lucu, adalah sindiran bagi rakyat kecil yang berjuang sekuat tenaga untuk mendapat sesuatu, meski hanya mengunyah sebuah kerupuk.

Roh kemerdekaan yang diperjuangkan oleh ba-pak-bapak bangsa itu mengandung harapan agar rakyat Indonesia untuk ke depan jangan seperti itu. Pasti tujuan mulia kemerdekaan adalah mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, dan terlindungi serta cerdas. Muluknya kehidupan yang memenuhi standar merdesa, yakni sejahtera, patut lagi layak. Itulah cerminan impian kita bersama. Hidup sejahtera berarti terjamin hak-hak dasarnya, hak mendapatkan kehi-dupan, pekerjaan, pendidikan, rasa aman, pelayanan sosial yang layak, Hak mendapatkan kebebasan berekspresi, beragama dan berkeyakinan serta mengembangkan diri dan seterusnya. Namun ternyata 65 tahun merdeka, harapan itu tinggal harapan. Maaf saja, kita ini sebenarnya seperti terjebak menjadi warga Negara Indonesia. Hidup seperti di "Negara kutukan"yang mendambakan sebuah "Republik Mimpi".

Setiap hari kita menyaksikan "panggung sandiwara" peran para pejabat dari atas sampai bawah, mereka yang di legislatif, eksekutif, dan yudikatif memamerkan kepiawaian seni lakon dalam suatu entertainment politik yang memuakkan, berupa KKN dan ke-gagalan demi kegagalan kebijakan terkait dengan hak-hak dasar rakyat. Terlebih-lebih akhir-akhir ini seperti teater "Penderitaan Tak Ada Ujung", bom-bom bunuh diri (tabung gas) siap memasuki rumah-rumah rakyat. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab makin asyik sendiri, terutama terus menggendutkan pundi-pundinya.

Anehnya tetap saja ada gerakan yang tak kenal lelah, yang mengatakan bahwa suasana seperti itu akan berakhir kalau kita menjadi Negara agama. Aneh ya, mosok akan mengakhiri kemungkaran jalannya malah pakai kekerasan, tak mentolerir perbedaan, mana membawa-bawa nama Tuhan lagi. Aneh tapi nyata.

(ED)

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 28 November 2021

Hari Minggu Adven I Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi