Tisu

  20 Nov 2016, 06:56

Tidak ada data pasti yang menyebutkan kapan kertas tisu (pembersih) masuk dan dikenal di Indonesia. Jika merujuk perkembangan pabrik kertas di Indonesia, sejak 22 Mei 1922 telah memiliki pabrik kertas dengan nama Naamloze Vennootschap (NV) Papierfabrieken Padalarang, dengan Ir CWJ Hoyer, sebagai Direktur pertama NV Papierfabrieken Padalarang. Pada 1960 perusahaan ini resmi berubah nama menjadi Perusahaan Negara (PN) Kertas Padalarang.

Tisu

Berdasarkan data Toilet Paper Historical Timeline, tisu modern yang kita kenal saat ini diproduksi pertama kali oleh Joseph Gayetty, pada tahun 1857. Lalu pada tahun 1879, Scott Paper Company yang didirikan Edward dan Clarence Scott pada tahun 1879, mulai memproduksi tissue gulungan tanpa perforasi. Selanjutnya, The British Perforated Paper Company, pada tahun 1880 juga ikut mengembangkan tissue modern. Pada tahun 1885, gulungan tisu toilet dengan perforasi mulai didistribusikan Albany Perforated Wrapping Paper.

Jika merujuk data penelitian Sapto Nugroho Hadi dari Departemen Biokimia Institute Pertanian Bogor (IPB), menggunakan kertas tisu lebih banyak unsur negatifnya daripada positifnya. Apalagi, jika digunakan secara berlebihan. Tidak ramah lingkungan. Menurut data tersebut, dari dua pack tisu isi 40 lembar, dibutuhkan satu pohon usia enam tahun.

Jika sehari satu orang menggunakan tissue rata-rata dua lembar, satu tahun menghabiskan sekira 730 lebar, artinya dalam satu tahun sekira 18 pohon dikorbankan untuk kebutuhan tisu satu orang. Padahal, satu pohon mampu menghasilkan oksigen untuk tiga orang.

Mari kita selamatkan pohon, kita selamatkan hutan. Data sampah yang ada di lingkungan Gereja Maria Bunda Karmel paling banyak juga berunsur kertas. Kertas tisu lalu disusul kertas dus makanan. Sampai saat Indonesia sudah kehilangan sekira 72 persen hutan.

Mari kita berusaha untuk berubah, dengan beralih menggunakan sapu tangan atau handuk. Memang tidak tidak mudah, karena sudah menjadi kebiasaan menahun. Namun, manfaat sapu tangan sangat tinggi. Selain mengurangi kerusakan hutan, juga mengurangi penumpukan sampah.

Dampak negatif lain, zat kimia dalam kertas tisu dapat bermigrasi ke makanan, apabila dipakai membungkus. Zat pemutih atau klor sengaja ditambahkan dalam pembuatan kertas tisu agar terlihat putih dan bersih. Zat ini bersifat karsinogenetik - pemicu kanker.

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 10 Desember 2019

Hari Biasa Pekan II Adven Makhluk ciptaan keluar dari tangan Allah yang dibuka dengan kunci cinta. (St. Thomas Aquinas)...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi