Kartini

  22 Apr 2017, 23:00

Kartini adalah mencabuti belatung-belatung dari luka kaum papa
Kartini adalah rela memberikan baju seragam kebanggaannya
Kartini adalah mendampingi kaum papa saat menghadapi sakratul maut

Bagi bangsa Indonesia, Kartini adalah penyelamat perempuan. Tidak salah apabila hari lahirnya senantiasa diperingati. Namun, zaman telah berubah, ada perbedaan masa saat Kartini hidup dan situasi zaman digital saat ini. Pemaknaan terhadap semangat Kartini pun menjadi berbeda pula.

Seperti yang dilakukan Suster Lucy Agnes MC (Misionaris Claris atau Misionaris Cinta kasih). Suster bernama asli Maria Donna Dewiyanti Darmoko ini asli kelahiran Kudus, Jawa Tengah, dia lahir dari pasangan kaum berada yang masih kerabat pemilik rokok Djarum. Maria Dona menyelesaikan studi Bachelor of Science di Amerika Serikat, lalu melanjutkan S2 di Australia.

Namun, alumni Regina Pacis Jakarta ini justru meninggalkan seluruh kekayaan duniawinya lalu mengikuti suara hati. Memilih melayani kaum miskin, gelandangan yang sakit dan yang terbuang. Mengikuti jejak Santa Teresa dari Calcutta.

Suatu waktu, saat liburan studi, Maria Donna jalan-jalan ke Hong Kong. Menetap di hotel supermewah. Baginya, melihat anak jalanan yang kotor adalah tabu, bahkan alergi. "Pertama kali melihat gelandangan yang sakit dan kotor di Hong Kong, saya lari karena jijik dan mau muntah. Tetapi begitu membelakangi mereka, seolah ada yang menarik saya untuk kembali pada mereka, kaum miskin yang tidur di jalanan," ujarnya seperti ditulis di akun milik Usi Karundeng, penyiar TVRI era 1990-an.

Suster Lucy Agnes, MC, seperti dikutip Harian Sinar Indonesia Baru, mulai tertarik melayani saat berada di Illinois, Amerika Serikat. Saat itu, dia melayani anak jalanan dan gelandangan terlantar layaknya saudara sendiri. Bersama mereka, Lucy seolah memperoleh kebahagian terindah. Setelah bergabung dengan Konggregasi Misionaris Claris, Sr. Lucy sempat melayani di Weoe, Timor Barat dan Aileu, Timor Leste.

Keseharian, Sr. Lucy Agnes MC hanya memiliki dua set pakaian. Bahkan, bila bertemu dengan orang tak berbusana, ia rela memberi seragam kebanggaannya. Baginya, busananya adalah kasih sayang. "Aduh.. aku memang tidak punya baju fisik mewah tapi baju kami adalah persaudaraan," ujarnya seperti ditulis di Facebook.

Kebahagiaan terindah baginya bila berada bersama kaum papa dan diberi kesempatan mendampingi orang saat menghadapi sakratul maut, dengan menguatkan dan mendoakan sesama. Hal yang tak pernah dilihat, kini dilakukan seperti mencabuti belatung-belatung dari luka-luka yang membusuk di tubuh dan kepala pasien.

Inilah Kartini abad milenium, Kartini di era digitalisasi.

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 7 Agustus 2020

Hari Biasa Pekan XVIII (Jumat Pertama Dalam Bulan) "Jiwa, yang telah dipersatukan dan diubah dalam Allah, bernapas di dalam Allah dengan pernapasan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi