Senyum

  26 Dec 2016, 08:32

Sebuah ekspresi manusia yang bersahabat. Ekspresi kenyamanan, kebahagiaan, dan persaudaraan. Senyum lebih banyak mengekspresikan segala hal yang sifatnya positif. Seperti yang dialami Theresia dari Lisieux. Senyuman Perawan Tak Bernoda yang diberikan kepadanya saat terbaring di tempat tidur menderita sakit, pada 13 Mei 1883, di usia sepuluh tahun.

Senyum

Penglihatan (vision) dan senyuman Bunda Maria itu bukan hanya menyembuhkan badan Theresia, tetapi seperti dikatakannya, patung itu menjadi seakan-akan hidup, menjadi sangat cantik, dan wajahnya memancarkan kesejukan dan kelembutan, yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata manusia.

Dalam bukunya, Theresia melukiskan senyuman Bunda Maria seperti menembus dasar lubuk jiwanya yang paling dalam dan membekas dalam sikap-sikap yang sangat indah yang berkembang secara menetap selama hidupnya.

Senyuman juga menginspirasi Suster Cecilia Maria, biarawati Karmelit yang tinggal di Biara Santa Teresa, Santa Fe, Argentina. Suster cantik, kelahiran kota San Martin de Los Andes, Neuquen, Argentina, 5 Desember 1973 ini dikenal sebagai sosok yang baik hati dan murah senyum.

Cecilia mengucapkan kaul pertama di biara Karmelit, saat usia 26 tahun. Lalu sepanjang hidupnya dan dalam kondisi apapun, dipersembahkan bagi Tuhan dengan selalu tersenyum. Dia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani dengan berdoa dan kontemplasi. Bagi masyarakat Santa Fe, Senyum Suster Caecilia dikenal memancarkan kesejukan dan ketulusan.

Suster Cecilia tetap tersenyum, meski telah divonis mengindap kanker lidah dan paru-paru. Dia terus berdoa dan berserah kepada Tuhan. Hingga, dokter memberitahu hidupnya tidak lama lagi. Ketika menyadari hidupnya tidak akan lama lagi, sebelum meninggal dengan tersenyum, pada 23 Juni 2016, di usia 42 tahun, Suster Cecilia menuliskan sebuah permintaan terakhir di selembar kertas yang akhirnya menjadi viral.

"Estaba pensando cómo quería que fuera mi funeral. Primero poco de fuerte oración, y después una gran fiesta para todos. ¡No se olviden de rezar pero tampoco de celebrar!"

"I was thinking about how I would like my funeral to be. First, some intense prayer and then a great celebration for everyone. Don't forget to pray but don't forget to celebrate either!"

Senyuman juga menjadi inspirasi para kru Warta Minggu, untuk menyelesaikan WM edisi khusus Natal, setebal 104 halaman (deadline 18/12/2016) dengan tetap menjaga bobot isi. Tidak mudah memang. Apalagi di saat yang sama, kami juga harus menyelesaikan WM edisi reguler (18/12/2016). Di saat yang sama karyawan Percetakan juga mulai cuti libur panjang akhir tahun.

Dengan senyuman teman-teman di desain, di redaksi, teman-teman penulis dan kontributor maupun teman-teman fotografer, menyelesaikan tepat waktu. Dengan senyum, tulisan menjadi baik, desain menjadi baik, dan iklan pun menjadi baik. Namun, Saya dan Sigit juga mendapat senyuman tulus dari dua Uskup Mgr. F.X. Hadisumarta, O.Carm dan Mgr. Ign. Suharyo, saat wawancara.

Di gereja Maria Bunda Karmel, jika melewati sekretariat paroki, semua umat dan karyawan diingatkan untuk senyum, salam dan sapa (3S). Tidak ada ruginya memberi salam, menyapa dan tersenyum. Mari kita biasakan, Senyum - Salam - Sapa.

Kepada seluruh pembaca Warta Minggu, kami mengucapkan,

Selamat Natal dan Tahun Baru...

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Rabu, 26 Februari 2020

Hari Rabu Abu - Hari Puasa dan Pantang Puasa rohani dan suci ini, sebaiknya kita kaitkan dengan pemberian sedekah, yang meliputi berbagai macam...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi