Pertobatan

  25 Mar 2017, 12:21

Pertobatan selalu menyangkut bagian terdalam dari pribadi seorang beriman. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan dirinya untuk bertobat. Dalam pertobatan itulah seorang beriman berhadapan langsung dengan Allah sendiri (dikutip dari Reconciliatio et Paenitentia).

Banyak sekali cerita inspiratif tentang pertobatan manusia. Kisah pertobatan Ignatius Waluyo yang paling legendaris, sebelum dieksekusi mati pada 16 Februari 1980. Sebelum ditembak, Ignatius Waluyo lebih dikenal dengan nama populer Kusni Kasdut, kelahiran Blitar 1929.

Di masa revolusi kemerdekaan, Kusni merampok untuk dana revolusi. Setelah Indonesia merdeka, Kusni Kasdut kembali menjadi perampok. Bersama Bir Ali, Kusni merampok Ali Badjened. Usai dirampok, Badjened ditembak mati oleh Bir Ali.

Satu tahun setelah perampokan sadis, persisnya 31 Mei 1961, Jakarta kembali geger. Kusni merampok lagi. Kali ini Museum Nasional Jakarta (Gedung Gajah), yang lokasinya tidak jauh dari Istana Negara. Kusni yang mengenakan seragam polisi menyandera pengunjung dan menembak mati petugas museum. Dalam aksi perampokan berdarah tersebut, 11 butir berlian koleksi museum disikat.

Tahun 1969, Kusni Kasdut tertangkap saat ingin menggadaikan berlian rampokannya. Kusni dijebloskan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Sempat beberapa kali kabur dari penjara, namun tertangkap lagi, sebelum akhirnya dieksekusi.

Di hari-hari terakhir hidupnya, Kusni bertobat dan menyesali kesalahan yang pernah dilakukan. Ia memutuskan menjadi Katolik, menjadi pengikut Kristus, dan dibaptis dengan nama Ignatius. Sebelum dieksekusi mati, Kusni menikmati sembilan jam terakhirnya di ruang misa Katolik LP Kalisosok, Surabaya dikelilingi anggota keluarganya.

Sekira delapan kilometer sebelum Gresik, Ignatius Waluyo dibimbing Romo Tandyo Sukmono berdoa. Lalu Amin. Peluru menggelegar. Tuhan, selesai sudah (majalah.tempointeraktif.com). Saat terakhir Kusni Kasdut, dijadikan ide lagu God Bless dengan judul, Selamat Pagi Indonesia. Lirik lagu ditulis Theodore KS, wartawan musik Harian Kompas, arrasemen lagu oleh Ian Antono.

Selain menjadi inspirasi lagu, kisah Kusni juga dibukukan oleh Parakitri Tahi Simbolon, Esais, Sosiolog, Cerpenis, Novelis dan mantan wartawan senior Harian Kompas, dengan judul Kusni.

Di atas makam Kusni Kasdut hanya tertulis: Ignatius Waluyo. Yang hendak ditinggalkan hanyalah nama baptis. Itu adalah semacam simbul dia hanya manusia biasa yang mati dalam iman. Dan dia tidak bergurau, sebelum berangkat ke tempat eksekusi, dia berkata, "Semoga dalam perjalanan terakhir saya ini tidak ketemu setan.. Alleluya..Alleluya.."

Lihat Juga:

Editorial (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 7 Agustus 2020

Hari Biasa Pekan XVIII (Jumat Pertama Dalam Bulan) "Jiwa, yang telah dipersatukan dan diubah dalam Allah, bernapas di dalam Allah dengan pernapasan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi