Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia

 Rm. Andreas Yudhi Wiyadi, O.Carm  |     15 Oct 2017, 02:04

Saya ingin berbagi refleksi dan pengajaran yang telah diberikan oleh Mgr Suharyo di temu DPH se - KAJ, Sabtu 7 Oktober 2017, Kramat. Setiap konferensi beliau entah itu di forum DPH ataupun Temu Pastores selalu bagus dan bernas. Sungguh sayang bila dilewatkan. Hanya kesadaran untuk membagikan pada umat baru kali ini. Menjadi benar rupanya, bahwa kesadaran itu datangnya terlambat. Tidak menjadi masalah, daripada tidak dilakukan sekarang.

Amalkan Pancasila: Kita Bhinneka, Kita Indonesia

Konferensi beliau sebenarnya memberi pendasaran dan panorama tema tahun 2018: Amalkan Pancasila - Kita Bhinneka Kita Indonesia. Tema ini melanjutkan pilihan tema dari KAJ selama 5 tahun. Kita telah memasuki sila ke-3 dari Pancasila yakni Persatuan Indonesia. Suatu tema yang akhir-akhir ini sangat relevan dan aktual dibahas dan pada saatnya diwujudkan dalam tataran praktik. Indonesia menghadapi masalah serius dengan ideologinya. Tentu saja Gereja tidak bisa tinggal diam. Karena kita 100% warga gereja 100% warga negara republik Indonesia. Cinta Gereja sama pula kita cinta pada tanah air Indonesia. Gereja dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Kita hidup di Indonesia.

Indonesia, Diri dan Hidup Saya

Beberapa waktu lalu, dalam peringatan hari lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni 2017, Prsiden Jokowi menyampakan pesan yang sangat penting. "Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada di aliran darah dan detak jantung kita, perekat keutuhan bangsa dan negara," ujar Jokowi. Bahkan Jokowi berpekik lantang,"Saya Indonesia, saya Pancasila," tegas Jokowi.

Pekik itu filosofis. Mengggugat kesadaran jatidiri. Artinya, saya dalam keberadaanku menyatakan dan mengidentikkan diri dengan Indonesia. Indonesia itu diri dan hidup saya. Begitu juga saya Pancasila berbicara tentang hal sama. Karena saya orang Indonesia wajib mencintai, merawat dan mempraktikan. Maka bila ada orang dan sekelompok orang yang ingin mengutak-atik apalagi mau menggantinya langsung berhadapan dengan saya yang adalah Indonesia dan Pancasila. Jokowi tidak hanya membangkitkan kesadaran akan siapa diri ini. Tetapi beliau juga tengah mengobarkan semangat api nasionalisme setiap warga negara yang tengah tidur lama.

Kita Bhinneka Kita Pancasila sebenarnya juga sama nada dan nafasnya. Bahwa kita ini senyatanya hidup dalam kebhinnekaan di dalam banyak hal. Bukan hanya SARA tetapi dalam apapun manusia itu sebenarnya berbeda. Kenyataan dan fakta. Manusia tidak ada yang sama. Yang sama dalam diri manusia itu adalah satu sama lain ciptaan Allah. Lain dari itu keniscayaan perbedaan.

Maknanya apa? Pertama kita sebagai manusia bertugas untuk mensyukuri, merawat dan mengembangkan perbedaan-perbedaan itu. Rupanya pelbagai perbadaan ini rahasia dan kehendak Allah sendiri. Allah yang menciptakan perbedaan itu. Kedua, tugas kita sebagai manusia adalah mengembangkan perbadaan-perbedaan itu. Karena berbeda itu sejatinya indah.

Lihat Juga:

Fokus (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 28 November 2021

Hari Minggu Adven I Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi