Exodus: Gods and Kings

 Agustinus Dwianto S.  |     1 Feb 2015, 03:42

Dalam bacaan pertama minggu ini, gereja mengangkat cerita tentang Nabi Musa. Saya pun langsung teringat tentang film Exodus: Gods and Kings. Film ini mengisahkan bagaimana Musa dan Ramses tumbuh menjadi pemimpin yang disegani dan dihormati warga Mesir. Namun keduanya menempuh jalan berbeda. Ramses yang saat itu menjabat sebagai Raja Mesir menganggap bahwa rakyat Yahudi adalah budak. Budak yang mendarah daging dan menjadi budaya di Mesir. Apalagi perbudakan tersebut sudah terjadi sejak jaman Firaun.

Exodus: Gods and Kings

Ramses pun semakin memojokkan Musa, saat dia tahu bahwa sahabatnya adalah budak. Kesempatan itupun membuat Ramses sebagai raja Mesir haus akan kekuasaan yang tak segan untuk memburu dan menangkap Musa. Di sisi lain Musa mendapat penampakan dari illahi melalui wujud seorang anak. Anak ini pun mengajak dirinya untuk menjadi komandan dalam membebaskan para budak.

Musa pun bisa menjalankan misi membebaskan para budak dari belenggu Ramses. Cara pertama yang dilakukan Musa adalah mencoba menyadarkan sahabat kecilnya, bahwa ia Tuhan. Harta dan takhta yang dimiliki terlahir karena kerja keras yang tak pernah dihargai Ramses dari para budak. Namun usaha tersebut tidak berbuah hasil. Hingga akhirnya Tuhan menunjukkan bagaimana kekuasaan-Nya. Musa percaya dan bisa melepas belenggu para budak dari kekejaman dan perintah Ramses, dengan salah satu cara adalah melewati lautan yang begitu luas. Lalu apa yang dilakukan Musa saat umat yang dibawanya menganggap dirinya adalah pemimpin?

Dirinya sadar bahwa kehidupan di dunia ada batas dan waktunya. Ia pun tidak bisa terus-menerus mengajar dan memimpin umatnya. Salah satu yang dilakukannya adalah membuat 10 perintah Allah yang diukirnya dalam sebuah batu. Dirinya yakin dengan adanya hidup tertib, murni dan menjalankan kebajikan, maka umat yang dibawanya akan beroleh keselamatan. Termasuk merasakan peran keluarga yang saling membutuhkan. Kepercayaan yang tinggi dari 600 ribu budak terhadap Tuhan, membuat mereka terlepas dari kebinasaan dan penyiksaan. Mereka secara sadar mengakui bahwa ada kuasa yang lebih tinggi dari Raja Firaun ataupun Raja Ramses, yaitu Tuhan.

Bagaimana kita belajar menjaga kedekatan diri kita pada Tuhan? Orang - orang saleh berpendapat seperti ini. Pertama, orang harus belajar sadar bahwa dia tidak sendiri, ada Tuhan yang menyertai dalam perjalanan hidup. Kedua, fase penjernihan. Fase ini merupakan saat kita melihat motivasi murni yang ada dan lahir dalam diri kita, bukan hanya untuk pemuasan diri. Ketiga adalah fase pencerahan diri (kontemplasi), tahap ini membuat kita merasakan Tuhan dekat, dan percaya pada anugerahnya. Fase berikutnya adalah pemurnian dan persatuan mistis untuk berbagi kabar baik untuk sesama.

(Buku Ruah Januari - Maret 2015 hlm. 127 - 128)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi