Bekerja Itu Sia-Sia...

  20 Aug 2010, 17:55

"Ah yang bener aja kalo loe ngomong, masa bekerja itu sia-sia... Sekarang ini banyak orang sedang cari kerja. Termasuk eloe juga masih kerja meskipun mengaku sudah pensiun. Itu namanya muna(fik)!"seru sobatku memotong ketika ngobrol bersama teman-teman SMA. "Sabar mas, bolehkah aku menyelesaikan kalimat itu?". "Iyo... iyo..wis terus ngomong wae tak rungokke," jawabnya kesal dengan dialek Semarang.

Bekerja Itu Sia-Sia...

Semua manusia mencari kerja sejak Adam dan Hawa berdosa. Tuhan memerintahkan manusia untuk bekerja dari pagi sampai petang (bdk Kej 3: 19:...dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah... ). Pujangga besar Kahlil Gibran berkata, "Kerja adalah cinta yang terwujud nyata."

Bacaan pertama hari minggu diambil dari Kitab Pengkhotbah 2: 1, 21-23 ...kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia... Ketika saya membacanya timbul perasaan bingung dan bertanya-tanya kenapa kitab yang begitu pesimis memandang kehidupan kok bisa masuk di Kitab Suci Perjanjian Lama? Apa manfaatnya bagi manusia? Baru setelah membaca beberapa kali dibantu penjelasan dari para ahli Kitab Suci mulai muncul pengertian bagiku bahwa hidup itu sia-sia bila kita hidup hanya untuk bekerja. Apakah saya saleh, kaya, pintar, bahagia, merdeka ataupun berdosa, miskin, bodoh, sedih, tertawan, semua itu akan menjadi sia-sia bila membuat saya lupa kepada Tuhan. Saya sukses dan karena kesuksesan ini membuat saya melupakan sesamaku, berfoya-foya karena menganggap hasil kerja keras harus dinikmati sepuas-puasnya. Saya hidup menderita dan setiap hari aku mengumpat kepada orang lain, marah-marah kepada Tuhan dan lalu melupakan-Nya. Pengkhotbah mengingatkan semua itu sia-sia, nirmakna, akan berakhir. Peristiwa yang terjadi dalam hidup akan berarti bila manusia tetap berpusat kepada Tuhanbukan kepada ilah-ilah modern misal kebahagiaan, kesedihan, uang, kemiskinan. "Oo... Oo... baru sadar ya, kalau selama ini apa yang eloe lakukan demi kebesaran dirimu bukan untuk Tuhan?" ejek hati nurani mendapat kesempatan menghantam. "Iya, iya maafin deh soalnya aku menjadi lebih ngeh (tahu) maksud Pengkhotbah setelah baca firman Mas Ye(sus) tentang Orang Kaya yang Miskin. "Luk 12: 13-21, "....Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta (rohani atau jasmani) bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah"

Kalau makna Pengkhotbah dibawa ke era modern, kita semakin yakin bahwa Kitab Suci masih sangat relevan dengan kehidupan manusia. Buktinya! Dalam seminar, workshop, artikel, buku, sering disinggung bahwa manusia akan bisa maju rohani dan jasmani bila berani keluar dari zona nyaman dengan terus-menerus mempertanyakan apa-apa yang sudah dimiliki (pengetahuan, kebijaksanaan, kekayaan, kemiskinan). Kitab Pengkhotbah merangsang manusia berpikir terus bahwa segala sesuatu itu sia-sia sampai manusia menemukan jawaban kekal dalam diri Yesus. Beranikah aku keluar dari kemapanan sekarang untuk mencari yang lebih baik? Semoga.

(JA Gianto / Sie Katekese)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 28 November 2021

Hari Minggu Adven I Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi