Memulihkan Hidup sebagai Kegembiraan

 Helena D. Justicia  |     29 Nov 2013, 17:11

http://goo.gl/GTxFbn

Beberapa waktu yang lalu, kita terhenyak oleh kabar tentang bayi yang meninggal di depan loket layanan rumah sakit. Ia mati karena buruknya kualitas layanan kesehatan. Kabar itu menambah kepedihan setelah terungkap bahwa dana sosial untuk membantu masyarakat di berbagai kabupaten dan provinsi di Indonesia diselewengkan. Korupsi merajalela, bahkan dari berita-berita media kita tahu bahwa korupsi terjadi dari tingkat RT hingga lembaga-lembaga tinggi negara.

Perilaku seksual para pejabat negara menyeruak ke permukaan, menjadi berita sensasional tersendiri saat penebangan hutan terus dilakukan dan isi bumi terus dikuras entah untuk kepentingan siapa. Bukan untuk rakyat tampaknya, karena masyarakat yang tinggal di sekitar hutan atau tambang justru semakin miskin dan tertinggal dari kemajuan peradaban.

Masyarakat kota besar yang identik dengan kenyamanan hidup pun tak luput dari masalah. Kemacetan jalan, buruknya kualitas angkutan umum, polusi, banjir kala musim penghujan, premanisme, tindak kriminalitas, adalah kabar yang didengar sehari-hari.
Berbagai kisah pahit itu mengiringi langkah-langkah hidup kita dari waktu ke waktu. Hidup itu, lambat laun barangkali tak lagi terasa sebagai anugerah Allah. Hidup hanyalah rangkaian beban, dan keseluruhannya itu hanya dimaknai sebagai penderitaan. Kita pun menjadi lelah, semakin tak berpengharapan, hubungan dengan Allah pun kian renggang. Masih adakah peluang agar hidup kembali menjadi kegembiraan?

Memulihkan Hidup sebagai Kegembiraan

Bagaimanakah dengan kita sendiri? Apakah kita larut dan hanyut dalam pusaran kehidupan yang tak lagi punya arti itu? Apakah kita tak lagi percaya kepada Allah? Apakah kita tetap setia dengan iman kita, memegang visi Kerajaan Allah, sungguh-sungguh berupaya untuk memulihkan dunia seturut kehendak-Nya?

Menjadi bermakna ajakan Nabi Yesaya dalam bacaan Kitab Suci minggu ini, "Mari kita berjalan dalam terang Tuhan!" (lih. Yes 2:5). Meskipun kegelapan dunia membutakan mata, ada terang yang akan menuntun kita untuk terus melangkah. Pengalaman keseharian mungkin masih terasa tak menyenangkan, hidup pun masih terasa berat; namun terang Tuhan akan mengubah hati kita dalam menyikapi persoalan. Bukankah Yesus tak menjanjikan hidup yang mudah? Yang Ia janjikan adalah penyertaan-Nya sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20), di dalam hidup yang sesulit apapun.

Janganlah larut. Janganlah hanyut. Hendaklah kita bersiap sedia, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tak terduga (bdk. Mat 24:44).

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi