Menyerahkan Kekhawatiran kepada Tuhan

 Sr. Stella Maria, HK  |     1 Mar 2014, 12:00

Pada hari profesi kekal, saya mendapat sebuah kartu indah dengan tulisan sebagai berikut: "Seorang anak kecil dan ayahnya menyeberang jembatan.Ayahnya berkata, nak peganglah tangankau agar kau tidak jatuh ke sungai. Anak itu menjawab, tidak ayah! Ayahlah yang harus memegang tanganku. Dengan bingung ayahnya bertanya,apa bedanya nak? Jika saya memegang tanganmu, lalu terjadi sesuatu padaku, apapun yang terjadi, saya yakin ayah tak pernah melepaskan tanganku". "Percayalah kepada Tuhan, maka aman dan selamatlah hidup kita", Proficiat!

Tulisan tersebut menginspirasi saya, bahwa kepercayaan sangat dibutuhkan dalam setiap langkah hidup kita. Begitu pula dalam perjalanan hidup, terkadang kita mengalami kekhawatiran, tak ada solusi lain selain datang kepada sang pemberi kehidupan, yakni Tuhan Yesus dan percaya kepada-Nya dengan iman yang teguh. Meskipun realita hidup yang kita alami sekarang ini menunjukkan pada kita banyak manusia sekarang mudah mengalami kekhawatiran, padahal kita juga berefleksi, bahwa kita adalah Manusia Pengharapan (WM 2/2/2014). Kita berusaha menjadi manusia yang memiliki pengharapan, namun kenyataan hidup menunjukkan pada kita bahwa manusia sejak dahulu kala sudah mengalami kekhawatiran dalam hidupnya, kekhawatiran akan masa depannya dan kekhawatiran akan nasib kelangsungan hidup selanjutnya.

Hal ini dikisahkan dalam perjanjian lama, dimana orang-orang buangan kehabisan harapan (Sion=Yerusalam). Sion berkata "Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku" (Yes.19:14). Maka Nabi Yesaya berusaha memberikan penghiburan bagi mereka, ia memperingatkan bahwa Tuhan tidak berhenti mengasihi mereka, menyertai perjalanan hidup mereka. Untuk menjelaskan hal itu, ia membandingkan kasih sayang Tuhan dengan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, walaupun ada seorang ibu melupakan anaknya, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau (Yes.19:15).

Kita sadari bersama, kemajuan teknologi begitu pesat, dan hal itu membantu kesejahteraan banyak orang dan agar orang dapat hidup yang lebih layak sebagai manusia, namun manusia kurang merasa cukup dengan semua yang telah didapatkannya. Pengalaman menunjukkan bahwa dewasa ini, manusia masih banyak kekurangannya. Manusia mudah cemas, ragu, dan khawatir. Hal itu terjadi tentu karena banyak faktor, mungkin bisa kita lihat di sekitar kita begitu banyak saudara/i kita yang mengalami ketidakberdayaan menanggung beban hidupnya, sehingga orang kehilangan kemampuannya untuk berjuang lebih baik lagi. Perlu kita sadari, tingkah laku social manusia membentuk masalah-masalah sosial di masyarakat dimana kita hidup. Apa yang bisa kita lakukan?

Realita hidup ini hendaklah mengarahkan kita kepada Tuhan. Kasih sayang dan kesetiaan Tuhan terhadap kita jauh melampaui kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Manusia cenderung mencari pegangan dan kepastian, maka ia membuat berhala-berhala kekayaan, kekuasaan dan kesenangan. Seringkali manusia jatuh dalam godaan dan dan menjadi budak dari kekayaan, kekuasaan dan kesenangannya itu sendiri.

Injil Matius 6:31-34, sabda Tuhan yang meneguhkan iman kita bahwa kita ada dalam Penyelenggaraan Ilahi-Nya. Kekhawatiran bukanlah solusi yang terbaik, karena bagi Allah kita jauh lebih bernilai, lebih berharga. Kenyataannya kita tidak bisa lari dari kekhawatiran hidup ini, yang bisa kita lakukan adalah meletakkan kekhawatiran kepada Tuhan, tentu hal ini tidak mudah, dibutuhkan kerendahan hati, kesabaran dan iman yang teguh.

Sebagai orang beriman di saat mengalami kekhawatiran, kita semua akan mencari sumber ketenangan, yakni Tuhan Yesus sendiri, sebagaimana didaraskan oleh pemazmur "Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang." Sabda-Nya hari ini mengajak kita untuk membuka hati dan berpasrah pada kehendak Tuhan pada penyelenggara-Nya. Mari kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan melalui doa dan usaha, juga hidup kita.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi