Merenung, Produktifkah?

  27 Oct 2010, 21:55

Suatu hari dulu kami mengunjungi sebuah kantor biro iklan, karena waktu itu kantor tempat saya bekerja merupakan salah satu klien biro iklan itu. Kami ke sana untuk menangani segala seluk beluk promosi perusahaan kami. Di salah satu ruangan yang namanya bagian kreativitas terlihat beberapa orang sedang duduk-duduk termenung. AE (account executive) yang mengantar kami secara berkelakar berkata, di sini mas, kelihatannya orangnya hanya duduk-duduk termenung saja, tetapi ba-yarannya paling tinggi di kantor ini. Mereka kerjaannya memang termenung mencari inspirasi sesuai order apa gerangan yang diinginkan para klien kantor itu. Kemudian hasil permenungannya dituangkan dalam bentuk segala visual sebagai eksekusi.

Merenung, Produktifkah?

Waktu itu, perusahaan tempat saya bekerja adalah sebuah tabloid olahraga dengan mayoritas pembacanya adalah anak-anak muda berumur dari 14-29 tahun. Maka bentuk promosinya juga harus sesuai selera anak-anak muda umur itu. Wujud eksekusi visual itulah yang tidak bisa kami wujudkan dan harus dibantu oleh biro iklan itu. Karena saya belum terlibat di WM waktu itu, dan tidak pernah tertarik membaca lembaran pertama WM yang berisi renungan. Konotasi saya waktu itu, orang yang suka merenung adalah orang tidak produktif. Apalagi tulisan renungan itu hanya berisi ayat-ayat KS, seperti peristiwa 2000 tahun yang lalu diceritakan terus berulang-ulang tanpa improvisasi. Pokoknya bosan!

Pokoknya, waktu itu dalam masa umur-umur produktif, merenung itu menghabiskan waktu sia-sia. Mengapa masih ada orang yang doyan merenung di zaman semua orang harus "lari, sibuk bergerak, beraksi, menciptakan kerja, dsb...,dsb.

Namun sehabis mengunjungi kantor biro iklan itu, saya termenung sendiri. Biro iklan itu mempunyai reputasi memenangkan berbagai bentuk iklan produk, dan salah satu eksekusinya ada yang membuat saya kagum. Dan hasil yang saya kagumi itu, ternyata hasil dari permenungan. Lalu, saya hubungkan dengan saya sendiri yang sebagai wartawan. Bukankah, ketika saya hendak menulis sesuatu topik, saya harus duduk termenung dulu? Kerjaan setiap hari di kantor. Memang, dimana pun ada orang yang suka dan tidak suka akan hasil karya kita. Namun ketika ada orang yang memuji hasil karyaku, dalam hati saya berkata, ini hasil permenungan, lho!

Maka, ketika mulai terlibat dalam karya pelayanan, konotasi saya tentang merenung itu sudah berobah total. Dalam KS di sana kita temui bagaimana Yesus bisa marah, bisa lemah lembut, bisa menegur bahkan membentak, bisa penuh ampun, pemaaf, bisa menjadi motivator, bisa santai dan bergembira, bahkan lagi bisa berduka bahkan putus asa. Pendeknya melalui permenungan kita bisa tuangkan dalam tulisan renungan. Mengeksekusinya yang disesuaikan dengan situasi zaman yang aktual. Pengalaman saya sebagai wartawan bisa mengayakan Sabda Tuhan. Ini hanya contoh saja. Maka ketika membaca Injil Lukas minggu ini yang bertemakan nasehat-nasehat, kita masing-masing bisa mengembangkan diri. Intinya, merenung yang produktif adalah mampu menerjemahkan apa sebenarnya yang menjadi misi Yesus di tengah alam yang kontradiksi dan penuh ketegangan ini. Renungan yang membawa kasih dan cinta.

(IG. Sunito)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 21 Januari 2022

Peringatan Wajib St. Agnes, Perawan dan Martir Di surga aku disatukan dengan Tuhan, sebab di dunia aku cinta pada-Nya dengan sepenuh hati. (St....

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi