Tuhan yang Menampakkan Diri-Nya

 Helena D. Justicia  |     4 Jan 2014, 10:10

Tak hanya para majus dari Timur yang bertanya-tanya tentang Yesus, Raja Yahudi yang baru dilahirkan itu. Ribuan tahun kemudian, masih banyak orang menanyakan hal yang sama. "Di manakah Yesus, agar kami bisa menyembah-Nya?"

Sebagaimana para majus menempuh perjalanan, kita pun melakukan peziarahan hidup untuk menemukan Dia. Banyak cara dicoba, banyak upaya dikerahkan untuk menemukan Tuhan. Peziarahan itu sendiri tak selalu mudah. Seringkali, kita harus bergulat terlebih dahulu dengan hidup hingga muncul keinginan untuk menemukan Tuhan. Kita yang telah memiliki keinginan untuk bertemu dengan Tuhan pun terkadang tak segera dapat menjumpai-Nya. Bahkan tak jarang, kita yang sudah menemukan Dia justru akan kehilangan pada suatu ketika, karena jalan hidup membawa kita jauh dari Tuhan.

Dalam kerinduan yang besar akan Allah, kita juga berbaik sangka dan rela menempuh cara-cara yang diusulkan orang kepada kita. Padahal, banyak juga di antara mereka yang hanya memanfaatkan kerinduan kita itu, atau malahan memang berniat menipu. Sering kita dengan kabar adanya pendoa-pendoa 'palsu', bahkan juga penampakan-penampakan yang dibuat karena iseng atau untuk menipu. Lalu bagaimanakah cara untuk menemukan Tuhan itu?

Para majus mengikuti bintang untuk menemukan Yesus. Kita, pada masa sekarang ini, mendapatkan bintang itu dalam rupa pribadi Yesus yang terpapar di Kitab Suci, Tradisi dan ajaran Gereja. Apakah kita telah mengikuti 'bintang' itu? Apakah panjang dan lamanya perjalanan untuk menemukan Tuhan memunculkan keraguan di dalam hati kita? Apakah kita setia mengarahkan pandangan pada 'bintang' itu, tidak memalingkan wajah ke arah lain?

Mengenai penampakan Tuhan, tanpa kita sadari, sesungguhnya ada di sekitar kita. Wajah Yesus tersamar dalam rupa sesama kita yang kecil, lemah, miskin, sakit, tersingkir dan difabel. Manusia diciptakan secitra dengan Allah. Persoalan hidup seliat apapun yang membuat manusia tak lagi memancarkan wajah Allah berarti panggilan bagi kita untuk mengembalikan manusia kepada martabatnya yang mulia. Sudahkah kita mencoba untuk hadir dalam hidup sesama kita itu, dan membantunya untuk menjalani hidup dengan lebih baik? Sudahkah kita terlibat dalam pergulatan hidupnya, agar sesama kita itu tetap memiliki harapan dan menempuh hidup sebagai kegembiraan?

Upaya untuk menjumpai Tuhan dalam hidup ini, barangkali akan menjadi sepanjang perjalanan hidup itu sendiri. Perkataan Nabi Yesaya kepada Yerusalem mungkin akan dapat membesarkan hati kita, "Terang Tuhan terbit atasmu, dan kemuliaan Tuhan nyata atasmu!" (lih. Yes 60:2)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi