Menolak Godaan

 Yeremias Jena  |     4 Mar 2017, 12:36

Sangat sering kita berhadapan dengan godaan. Dari iklan, kita digoda untuk membeli barang-barang yang mungkin tidak terlalu kita butuhkan. Dari media sosial, kita digoda untuk mengomentari postingan atau berita yang justru memperkeruh suasana. Di lingkungan, kita tergoda untuk tidak terlibat dalam kegiatan rohani karena tidak suka pada orang tertentu atau kegiatan tertentu. Di rumah, kita tergoda untuk lebih menonton televisi atau berselancar di media sosial daripada berelasi dengan istri, suami, dan anak-anak. Di tempat kerja, kita tergoda dengan kecantikan atau kegantengan orang lain yang bukan pasangan kita, jatuh dalam perselingkuhan dan semacamnya.

Ya, kita tidak akan pernah bisa menghadapi keseharian hidup tanpa godaan. Justru karena itu pertobatan seharusnya menjadi kebutuhan primer orang. Jika godaan dan pencobaan yang selalu hadir dalam hidup itu dihadapi dengan pertobatan yang terus-menerus, kita dimampukan untuk memposisikan Allah sebagai andalan dalam hidup ini.

Masa Prapaskah adalah kesempatan yang disediakan Gereja bagi pertobatan kita. Selama masa ini, bacaan-bacaan Kitab Suci membantu kita untuk merancang pertobatan dan pertumbuhan iman.

Bacaan pertama di minggu pertama Prapaskah mengingatkan kita tentang bagaimana Adam dan Hawa yang gagal dalam menghadapi godaan ular. Kita mengidentifikasi diri sebagai pribadi yang lemah dan berdosa seperti Adam dan Hawa, yang dalam banyak hal mencoba menantang Allah dengan bertindak bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Padahal kita telah mengetahui manakah tindakan yang benar dan dikehendaki Allah dan manakah yang salah. Meskipun begitu, bacaan kedua menegaskan bahwa berkat Kristus, karunia dan rahmat Allah mengalir ke dalam diri kita dan menyelamatkan kita dari dosa yang disebabkan oleh Adam dan Hawa itu. Tentu anugerah ini harus ditanggapi dengan sikap pemazmur yang terus saja berseru: "Kasihanilah aku ya Tuhan, karena aku orang berdosa." Lagi-lagi ini sebuah sikap kerendahan hati dan keterbukaan diri untuk bertobat dan membarui diri.

Bacaan Injil dari Matius 4:1-11 memperlihatkan kepada kita tiga godaan yang sering kita hadapi. Godaan pertama, berhubungan dengan masalah daging, tubuh, perut, hal-hal material. Persis ketika kita sedang menginginkan sesuatu secara material-lah setan penggoda hadir. Meskipun lapar, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa, "Manusia tidak hanya hidup dari roti saja, tetapi juga dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Dia memiliki kemampuan mengubah batu menjadi roti tetapi itu tidak dilakukannya. Sementara kita yang hidup tergantung sepenuhnya pada penyelenggaraan Allah masih sering jatuh dalam godaan-godaan yang sifatnya material dan kedagingan.

Godaan kedua, berhubungan dengan kesombongan. Yesus menolak skenario setan untuk menjatuhkan diri-Nya dari bubungan Bait Allah karena itu menghina dan mencobai Allah sendiri. Kesombongan diri nyata dalam tindakan memuliakan diri, menganggap diri lebih unggul, dan dengan begitu menjauhkan diri dari penyerahan dan penyandaran hidup pada Penyelenggaraan Ilahi.

Godaan ketiga, berhubungan dengan nafsu merealisasikan segala keinginan, mimpi, dan hasrat demi pemulian diri. Menginginkan sesuatu secara material dan dikuasai olehnya dapat membuat kita menjadi sombong, dan pada akhirnya memisahkan diri sama sekali dari Allah, karena kita telah menjadi sumber baru bagi pemujaan dan pemegahan diri.

Mari kita memohon kepada Tuhan, semoga kita pun sanggup menghardik setan dalam kewibawaan Tuhan, "Enyalah kau setan, janganlah engkau mencobai Tuhan Allahmu!."

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Senin, 21 September 2020

Pesta Santo Matius, Rasul, Penginjil Matius, seorang pemungut cukai, menjadi contoh pertobatan dan pengampunan bagi banyak pemungut cukai dan pendosa...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi