Kebahagiaan Abadi

  18 Nov 2010, 21:41

Orang Saduki dan Farisi mengandalkan hidupnya pada apa yang kelihatan, dan kurang atau tidak percaya kepada yang tidak kelihatan atau Yang Ilahi. Mereka juga tidak percaya pada kebangkitan orang mati. Maka sungguh kontradiktif atau merupakan jebakan ketika mereka bertanya kepada Yesus perihal kebangkitan orang mati. Orang-orang seperti mereka pasti mudah bingung dan frustasi ketika menghadapi tantangan dan kesulitan hidup didunia ini. Karena sesungguhnya mereka kurang beriman atau tidak percaya kepada Allah yang telah menciptakan dan mendampingi kehidupan mereka di dunia ini, yakni "Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Percaya dan menghayati kehadiran karya Allah dalam diri kita, manusia yang lemah dan rapuh ini, rasanya untuk masa kini sungguh merupakan salah satu bentuk kemartiran tersendiri.

Maka bercermin dari sabda hari ini marilah kita mawas diri, tingkatkan serta perdalam iman kita kepada Penyelenggaraan Ilahi. Percaya atau beriman pada Penyelenggaraan Ilahi berarti dalam keadaan apapun di dunia ini, yang sarat dengan hambatan dan tantangan, kita tetap ceria, gembira dan bergairah karena Allah, Yang Ilahi tetap berkarya dalam kelemahan dan kerapuhan kita. "Di dalam Dia kita beroleh iman kita kepada-Nya." (Ef 3: 12) demikian sharing iman Paulus kepada umat di Efesus kepada kita semua. "Di dalam Dia" berarti bersatu dan bersama Yesus yang telah menderita sengsara dan wafat dikayu salib, sebagai perwujudan ketaatan dan kesetiaan pada tugas perutusan, demi keselamatan dan kebahagiaan seluruh umat manusia. Marilah kita menghadapi masalah dan tantangan dalam kehidupan ini, menatap dan bersembah sujud kepada Dia yang tergantung di kayu salib.

"Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing". (1 Mak 6: 13), demikian kata raja Anthiokhus, yang menyadari keadaan dirinya sedang diri sedang menderita. Baiklah kita renungkan kutipan ini. Mungkin kita sedang menderita, jangan-jangan kita telah melupakan Allah dalam kehidupan dan sepak terjang kita. Jika demikian adanya marilah kita insaf dan bertobat. Ingatlah dan hayatilah bahwa 'hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan'.

Kita perlu sadar pula bahwa hidup sesudah kematian menjadi Tanda Tanya bagi banyak orang hingga saat ini. Apakah hal itu mungkin? Kalau mungkin, bagaimana persisnya hidup sesudah kematian itu? Apakah disana ada kawin dan dikawinkan? Apakah disana kita dapat saling mengenal satu sama lain, sama seperti pengenalan kita didunia ini? Aku mengenal ibuku? Kakakku? Saudara/riku? Keponakanku? Istri/suamiku? Masih banyak lagi pertanyaan lainnya.

Berbagai penjelasan tentang hal ini pun muncul. Namun, kita tentu berpegang pada apa yang dikatakan Yesus sendiri. Sebab Yesus satu-satunya yang datang dari atas, dari Allah sendiri. Yesus menegaskan bahwa orang yang sudah dekat dengan Tuhan tidak lagi mempunyai istri, kawin dan dikawinkan. Mereka cukup mengalami kemuliaan Allah dan kesatuannya dengan para kudus yang lain, dan itulah yang amat membahagiakan mereka selama-lamanya. Allah menjadi satu-satunya nilai yang tinggi bagi mereka dan tidak ada yang lain. Maka, mereka akan selalu bersama dan bersatu de-ngan Tuhan sendiri untuk selamanya. Bersatu dengan Allah adalah kebahagiaan abadi; terpisah dari Allah adalah kemalangan abadi. Mana yang kita pilih, itu yang paling penting!!!!

Tuhan bimbinglah kami menjadi manusia yang melihat masa depan kami dalam kesucian hidup. Semoga Engkau berkenan kepada kami dan menjadikan kami manusia yang tahu berterimakasih dihadapan-Mu dan sesama kami. Semoga! Amin.

(Magda - HK)

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Jumat, 21 Januari 2022

Peringatan Wajib St. Agnes, Perawan dan Martir Di surga aku disatukan dengan Tuhan, sebab di dunia aku cinta pada-Nya dengan sepenuh hati. (St....

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi