Pinta Tanah kepada Tuannya

 Helena D Justisia  |     14 Jul 2014, 11:32

Seandainya kita adalah tanah yang subur, betapa gembiranya. Berbagai benih dapat disebarkan dan tumbuh di dalam diri kita, lalu akan berbuah dengan lebatnya. Kehadiran kita pun dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Akan tetapi, bagaimanakah jika kita bukanlah tanah yang subur itu? Bagaimana jika kita adalah tanah tipis di pinggir jalan, tanah sedikit di antara batu, ataupun tanah yang bersemak duri? Benih mungkin dapat jatuh, namun segera habis dipatuk burung, layu terbakar matahari, atau mati terimpit belukar. Jangankan benih akan berbuah; tumbuh sehat pun tidak. Betapa sedihnya!

Seandainya kita bukanlah tanah yang subur itu, apakah yang akan kita lakukan? Mengutuk dan menyesali diri, ataukah mencoba untuk berbenah?

Tanah tipis di pinggir jalan seringkali diibaratkan sebagai pintu hati yang tertutup bagi benih-benih sabda Allah. Tanah sedikit di antara batu adalah realitas kita, yang tak mampu menumbuhkan iman. Tanah bersemak duri adalah kita di tengah impitan zaman; tak sanggup memelihara iman hingga berbuah.

Dalam situasi hidup yang tak mudah, bahkan tatkala harapan seringkali kehilangan makna, rahmat Allah senantiasa dapat dipinta. Kitalah tanah dan Allah-lah tuannya. Tanpa cinta dan keterlibatan-Nya, kita akan tinggal sia-sia. Mintalah, maka kita akan diberi!

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi