Antara Talenta dan Toleransi

 Ign. Sunito  |     15 Nov 2014, 19:45

Tanggal 16 November ini adalah Hari Toleransi dan bacaan Injil Minggu ini tentang talenta. Kebetulan juga hari Minggu (9/11/014) penulis kebetulan di kota Bandung untuk hadir dalam hajatan keluarga. Namun gagal total seluruh keluarga dari Jakarta terjebak kemacetan akibat ada pesta rakyat kemenangan Persib Bandung menjadi juara sepakbola Indonesia ISL. Dari suasana ikut bergembira berubah menjadi mimpi buruk, mobil-mobil huruf B menjadi sasaran itu yang namanya bobotoh supporters Persib. Digebrak-gebrak, ditendang, dan kami dimaki-maki dengan segala kamus kebon binatang keluar. Mereka tidak peduli sekalipun di dalam mobil ada anak-anak kecil.

Antara Talenta dan Toleransi

Memang disadari bahwa antara Bobotoh dan Jack Mania supporters Persija ada dendam berkelanjutan. Namun kali ini lawan Persib adalah Persipura Jayapura dan menang sekaligus juara. Mengapa orang-orang Jakarta tetap menjadi sasaran?

Heran? Sudah beberapa kali penulis mengalami kejebak di tengah-tengah demo, tapi perasaan galau seperti merasa tidak aman di negeri sendiri, ya, baru kemarin itu. Katakanlah kejadian sebelumnya adalah intoleransi soal agama, namun kali ini melanda ke dalam lingkunganolahraga yang terkenal menjunjung tinggi sportivitas, toleran! Dan lengkap sudah kehidupan masyarakat kita yang benar-benar intoleran. Dari jalan raya s/d olahraga Penulis ingat bahwa Indonesia terkenal karena pemerintahnya selalu membiarkan tindakan intoleran terhadap sesama warganya. Terbukti di sidang kelompok kerja HAM PBB di New York Mei 2012, Indonesia dikecam keras. Sementara jawaban melalui Menlu Marty Natalegawa hanya "menyesal karena demokrasi disalahartikan oleh kelompok-kelompok radikal." Dan itu berlanjut terus dalam pemandangan di DPR/MPR sekarang ini. Perebutan kekuasaan tak mengenal toleransi. Juga itu para pendemo yang selalu bikin onar. Kali ini sasarannya adalah Ahok untuk jadi gubernur DKI. Dasarnya hanya dendam kesumat. Lalu, apa yang bisa kita kerjakan sekarang?

Harapan besar kita pasti harus dari atas. Dari pemerintahan sekarang. Presiden Djoko Wi memiliki sejumlah talenta yang kalau kita lihat gayanya seperti tidak menimbulkan kesan. Namun hasil kerjanya mengesankan. Lihat contoh kecil mempertahankan Lurah Susan yang Kristen dari rongrongan kaum fundamentalis. Sikap toleran yang sudah kita miliki dari dulu pada ranah kultural harus diangkat lebih luas, dalam bentuk sistem hak-hak yang dijamin oleh negara. Kegagalan pemerintah dalam menjamin hak-hak publik itu justru dapat merusak toleransi kultural pada lapisan akar rumput. Dan itu sudah terjadi yang sekarang ini kita lihat dan rasakan.

Melalui diri kita masing-masing, kita memang mempunyai talenta masing-masing. Kita ingat para orang tua kita memodali kita untuk mengembangkan talenta yang ada pada diri kita. Penulis sendiri ibaratnya hanya diberi "dua talenta" namun bisa mengembangkan seperti sekarang ini. Terserah penilaian orang lain. Namun terhadap Djoko Wi dulu, mungkin, hanya diberi talenta sebagai tukang kayu. Namun ia berhasil malah mengembangkan diri menjadi seorang presiden.

Jangan sia-siakan talenta yang Anda miliki. Terutama yang muda-muda.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi