Menemukan Indahnya Karunia Kasih Melalui Komunikasi dalam Keluarga

 Rm. Kristianto P. S., O.Carm  |     17 May 2015, 05:32

Setelah membaca Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-49 Tahun 2015 ini, saya membuat judul tulisan ini sebagai yang mewakili pemahaman saya. Maka, tidak persis sama dengan judul Pesan Paus kita. Berikut hal-hal yang melatarbelakangi dan yang sempat terpikir saat saya membacanya:

Menemukan Indahnya Karunia Kasih Melalui Komunikasi dalam Keluarga

1. Komunikasi lahir di dalam Keluarga
Kata kuncinya terletak pada "rahim". Rahim seorang ibu dengan bayi di dalamnya adalah hal nyata dimulainya komunikasi. Sehingga, komunikasi kita terbentuk bukan sejak kita lahir ke dunia, melainkan sudah dimulai saat kita masih di dalam rahim ibu. Tidak terpikir akan adanya perbedaan yang mengakibat perpecahan, justru sebaliknya bahwa perbedaan antara ibu dan bayi sebagai dua pribadi itu menjalin relasi kasih yang luar biasa dalamnya. Dikatakan oleh Paus kita bahwa "rahim" adalah sekolah komunikasi kita yang pertama, tempat mendengarkan dan kontak fisik di mana kita mulai mengakrabkan diri dengan dunia luar.

Cobalah untuk merenungkan sejenak, minimal membayangkan diri kita berada di dalam rahim ibu. Ada rasa ketergantungan yang mendasar dan alami, dan itu terjadi oleh bagaimana ibu kita berkomunikasi dengan sesamanya, terlebih dengan ayah. Sungguh luar biasa bila kita bisa merasakannya. Baik pulalah kalau kita turut ambil bagian dalam cerita perjumpaan Bunda Maria dan Bunda Elisabet (Lih. Luk 1:39-56).

2. Komunikasi itu tumbuh dan berkembang dalam Keluarga
Kembali kita mendapat pencerahan dari Paus Fransiskus. Beliau menyampaikan tentang "rahim" itu bahwa lebih lanjut juga adalah "rahim" dalam arti keluarga. Sehingga, ketika kita lahir ke dunia, kita masih dalam "rahim", bukan saja sebagai tempat tetapi suasana belajar komunikasi yang baik
dengan Allah dan sesama.

Lalu, saya melihat bagaimana beberapa keluarga di paroki kita yang tidak sedikit telah terhipnotis oleh semangat individualistis dan mengedepankan gaya egoisme. Dikatakan oleh Paus dengan mengutip Evangelii Gaudium Artikel 66, keluarga adalah tempat "di mana kita, meskipun berbeda, belajar hidup bersama orang lain". Mungkin lebih terkesan subyektif: Saya prihatin bila bertemu dan melihat anak-anak yang sibuk dengan iPad/HP/Tab dan game di dalamnya, anak-anak tidak mau mendengar nasihat orang tuanya.

3. Belajar "Menemukan Indah-Nya Karunia Kasih" dalam Keluarga
Bertepatan dengan Tahun Syukur Keluarga, paroki kita kembali berterima kasih kepada Tuhan, karena Paus Fransiskus memberikan pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia sesuai dengan tema tahun 2015 paroki kita.

Belajar, mengapa saya memilih kata ini? Kata-kata Paus dalam pesan itu membuat saya optimis bahwa akan muncul keluarga-keluarga Katolik yang solid dan mampu menjadi tempat istimewa perjumpaan kasih. Beliau mengatakan bahwa keluarga yang sempurna itu tidak ada. Selanjutnya, Beliau berpesan supaya kita tidak perlu takut akan cacat cela, kelemahan atau bahkan konflik, tetapi sebaliknya belajar untuk mengatasinya secara konstruktif.

Komunikasi dalam keluarga perlu direkonstruksi kembali ke arah yang tepat demi karunia kasih di dalamnya. Oleh karena itu, orang tua perlu mengambil kembali perannya yang di zaman sekarang ini hampir bisa dipastikan telah banyak diambil oleh media komunikasi dan teknologi.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi