Mengampuni Tak-Berkesudahan

 Yeremias Jena  |     17 Sep 2017, 02:55

Pengakuan Petrus mengenai 'Siapakah Anak Manusia' dalam Bacaan Injil hari Minggu Biasa ke-21 (27/8/2017) menegaskan bagaimana Tuhan Yesus 'mendirikan' Gereja-Nya dan mendelegasikan kewenangan kegembalaan. Tuhan Yesus menghendaki agar karya keselamatan Allah terus dilanjutkan saat Dia sudah tidak ada lagi di dunia. Refleksi kita di hari minggu berikutnya (3/9/2017) difokuskan pada ajaran Yesus bahwa menjadi murid Kristus itu sama dengan menyangkal diri dan memikul salib, rela kehilangan nyawa untuk mendapatkan kembali dalam kepenuhan (Mat 16:21-27). Sementara itu, koreksi persaudaraan yang adalah salah satu sifat yang harus dimiliki umat Allah dipilih sebagai fokus refleksi dan pembentukan sifat kejemaatan kita dalam Bacaan Injil hari Minggu Biasa ke-23 (10/9/2017) dan hari Minggu Biasa ke-24 (17/9/2017). Jika minggu lalu kita diingatkan untuk menasihati sesama saudara dengan menegor dia di bawah empat mata (Mat 18:15-20), maka refleksi hari Minggu ini difokuskan pada pengampunan secara tak-terbatas (Mat 18:21-35).

Mengampuni Tak-Berkesudahan

Petrus mewakili semacam keresahan jemaat awal soal berapa kali harus mengampuni, dan jawaban yang diberikan Yesus tidak kalah meresahkan dan mengagetkan: "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18: 22). Sesungguhnya Tuhan Yesus tidak sedang bermain angka jika kita membaca kisah selanjutnya. Di satu sisi Matius menampilkan sifat yang kontras antara Tuhan (Raja) yang begitu mudah tergerak hatinya oleh belas kasihan dan mau mengampuni ketika hamba yang berutang 10 ribu talenta sujud memohon ampun di hadapan-Nya (Mat 18: 27-28). Di sisi lainnya, hamba yang kesalahannya telah diampuni justru tidak menunjukkan belas kasih dan pengampunan, tetapi malah menghukum sesamanya yang berutang kepadanya (Mat 18: 29-30).

Angka-angka ilustratif yang digunakan Matius sungguh menggambarkan sifat Tuhan (Raja) yang gemar mengampuni. Hamba yang diampuni memiliki utang 10 ribu talenta. Jika satu talenta sama dengan 10 ribu dinar, dan satu dinar kisarannya antara 150 ribu-1,5 juta rupiah (tidak ada takaran baku untuk satu dinar), maka kisaran utang hamba itu adalah 100 juta dinar atau sekitar 15 Triliun, jumlah yang tidak masuk akal dalam hal utang piutang oleh seorang hamba. Hamba itu tidak mungkin akan mampu melunasinya, juga jika dia, istri, anak-anak dan seluruh hartanya dijual.

Dengan kata lain, Tuhan yang diimani sebagai Mesias dan Anak Allah juga adalah seorang yang murah hati dan pengampun. Hati-Nya mudah tergerak oleh belas kasihan; Ia gemar mengampuni. Maka, kita sebagai pengikut Kristus seharusnya menjadi orang yang hatinya mudah tergerak oleh belas kasihanan dan gemar mengampuni. Jumlah kesalahan yang dilakukan orang kepada kita tidak pernah bisa dibandingkan dengan kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan kepada Yesus. Dan ketika Tuhan Yesus mudah mengampuni, tidak peduli berapa besarnya kesalahan dan dosa kita, mengapakah kita menjadi begitu berkeras hati?

Kita mudah menjadi seperti hamba yang menjebloskan temannya ke penjara itu. Kita suka menjadi orang yang keras hati dan sulit mengampuni. Hari ini kita diingatkan (lagi) untuk mengampuni secara tak-terbatas. Karena itulah watak para murid Kristus: "bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali" harus mengampuni sesamanya." Ya, kita dipanggil untuk mengampuni tak-berkesudahan

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 28 November 2021

Hari Minggu Adven I Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi