Menanggapi Panggilan Allah

 Robby Purnomo  |     18 Jan 2015, 06:06

Tanggal 18 Januari adalah hari pembukaan Pekan Doa International untuk persatuan orang Kristen. Seluruh umat Kristen di dunia selama seminggu hingga 25 Januari diajak untuk bersama mendoakan persatuan umat Kristen. Ketika Yesus datang ke dunia, mewartakan kabar gembira Kasih Allah, Ia mengharapkan satu jemaat yang bersatu. Tetapi dalam perjalanan waktu, umat manusia yang suka menang sendiri, egois dan kurang empati mulai memilih jalannya sendiri yang dianggap paling benar. Terjadilah perpecahan di kalangan umat Kristen; akibat masing-masing ngotot menuruti ambisinya sendiri dan tidak bermusyawarah mencari persatuan dan kebenaran bersama.

Menanggapi Panggilan Allah

Bibit-bibit kesadaran akan pentingnya persatuan muncul di tahun 1740 dengan suatu gerakan Pentkostal yang amanat pokoknya mencakup doa bagi dan bersama semua gereja. Tahun 1894 Paus Leo XIII mendorong kebiasaan menyelenggarakan suatu Pekan Doa untuk kesatuan dalam kerangka Pentakosta. Tahun 1908 Paul Watson mulai melaksanakan Pekan Kesatuan Gereja. Dekrit Konsili Vatikan II mengenai Ekomenisme mendorong pelakasnaan Pekan Doa dengan menandaskan bahwa doa adalah jiwa dari gerakan ekumenis.

Kita semua menerima panggilan Tuhan. Seperti dikisahkan dalam bacaan pertama Hari Minggu 18 Januari 2015 ini; Tuhan memanggil Samuel, namun panggilan itu baru tertangkap jelas oleh Samuel setelah dia siap dalam keheningan.

Sementara Paulus dalam bacaan ke dua mengingatkan kita bahwa sebagai umat yang terpanggil kita harus menghormati tubuh yang dianugerahkan kepada kita dalam keadaan suci, sebagai bait Roh Kudus. Tubuh kita hendaknya kita pakai untuk menyatakan cinta kasih kita dan bukan untuk pemenuhan hawa nafsu yang jauh dari cinta kasih sejati.

Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Yohanes memperkenalkan Yesus pada muridnya yang lalu mengikuti Yesus. Yesus memanggil mereka untuk itu. Dan mereka langsung ikut ke rumah Yesus.

Bagaimana kita menanggapi panggilan Yesus?

Tidak jarang kita mau ikut Yesus asal sesuai dengan perbagai syarat yang kita ajukan demi kenikmatan dan kemudahan kita sendiri. Tidak jarang kita mencari pembenaran dengan dalih kita itu manusia biasa, bukan malaikat... Kita sering coba berdagang dengan Yesus. Bahkan dalam berdoa kita tidak sepenuhnya pasrah, tetapi coba mengatur atau memerintah Yesus untuk mememberi apa yang kita minta. Kita sering merasa tahu apa yang paling benar, apa yang paling tepat untuk kita.

Marilah kita berusaha untuk menanggapi panggilanNya dengan pertama-tama menerima Yesus tanpa syarat. Kita hendaknya menerima Yesus yang ada dalam sesama kita dan melayani-Nya sesuai dengan apa yang diperlukan-Nya. Marilah kita mohon kekuatan dan kejernihan pikiran untuk menerima piala yang diberikan Tuhan pada kita, dan bukan memilih sendiri piala yang akan kita minum.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi