Jalan, Kebenaran, Hidup

 JA Gianto / Katekese  |     18 May 2014, 23:24

Waooo..!! Kekerasan terhadap anak semakin terungkap semakin mengerikan akibat runtuhnya tata-nilai kasih menjadi berahi dan penindasan dalam masyarakat Nusantara...," pesan sahabat melalui WhatsApp. Otakku yang pas-pasan coba mencari tahu kenapa sampai runtuh? Bukankah semua agama mengajarkan cinta? Hati nuraniku ikut nembak langsung, "Iya seperti loe uda ikut aneka pendalaman iman tapi kelakuan tetap seperti orang Farisi yang lebih mementingkan bungkus daripada isi... he... he..."

Jalan, Kebenaran, Hidup

Saya mempunyai ayat emas "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup...." (Yoh 14:6) sebagai senjata pamungkas pembenaran diri. Bila sudah dibaptis dan setiap minggu pergi ke gereja maka semua urusan sudah beres. Ditanggung masuk surga.

Yesus adalah jalan artinya tempat yang harus dilalui agar mencapai tujuan hidup kekal. Tentunya manusia perlu mengikuti rambu-rambu kasih, damai, sabar, murah hati di jalan agar sampai ke tujuan dengan selamat. Bila melanggar rambu, kemungkinan besar timbul konflik dengan orang lain, terperosok jurang atau tabrakan. Sebaliknya manusia yang setia mengikuti rambu, dengan senang hati berhenti sejenak membantu orang lain. Mungkin berbagi bekal supaya bisa bersama-sama ke rumah Bapa. Alangkah eloknya.

Ah itu sih teori, ideal. Jaman sekarang jalan semakin ramai dan macet. Banyak pengemudi ugal-ugalan dan menabrak pengendara lain yang tertib. Kalau tidak berani main serobot kapan sampainya? Teror ada dimana-mana siap menerkam. Segala sesuatu harus dipertahankan dengan kekuatan senjata kekerasan. Siapa lembek dimakan.

Nah inilah tantangan menjadi saksi Kristus yang hidup. Setiap hari doa Bapa Kami, "...Datanglah kerajaan-Mu..." dilantunkan dengan pengharapan Allah meraja di hati manusia. Masih ada contoh sekelompok manusia yang tetap melaksanakan rambu-rambu kasih. Manusia lebih mudah belajar melalui "role model" daripada hanya sekedar ucapan. Setiap orang diutus mempengaruhi orang lain untuk berubah dari keadaan sekarang menuju yang lebih baik. Kuncinya adalah lingkaran pengaruh yang bergerak keatas, samping maupun kebawah. Yesus sebagai Pemimpin pelayan semasa hidupnya mempunyai pengaruh tidak hanya kepada orang kebanyakan tetapi juga menembus dikalangan petinggi agama maupun pemerintahan.

Beranikah saja mengikuti jalan Yesus dan ikut mempraktekkan kebenaran mencapai tujuan hidup kekal? Semoga.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Minggu, 24 September 2023

Hari Minggu Biasa XXV Iri hati adalah satu dosa pokok. Ia berarti bahwa orang kecewa karena yang lain mendapat untung, dan menghendaki secara tidak...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi