Persembahan bagi Allah

 Judith Widjaya  |     19 Oct 2014, 00:23

Pajak atau cukai pada jaman dulu adalah suatu pembayaran wajib bagi setiap orang sesuai dengan persentasi pendapatan atau penghasilan yang didapat dari usaha orang tersebut. Namun pajak juga dianggap sebagai kunjungan kejujuran dari pemberian atas hasil kerja yang didapat, dimana setiap orang wajib memberikan persembahan dari hasil panen.

Namun bagi pemilik cukai pajak adalah paksaan yang harus diserahkan kepada kaisar untuk mencari popularitas dan baik di mata kaisar karena setiap pemungut cukai dianggap orang jahat atau orang berdosa. Contoh, Matius pemungut cukai.

Bagi Yesus, membayar pajak adalah hal yang harus diberikan pada kaisar dengan kejujuran dan memberikan persembahan hidup kepada Allah. Demikian juga bagi Allah harus memberikan yang wajib untuk Allah, yaitu persembahan dan rasa syukur atas segala yang didapat dalam hidup.

Contoh, Zakheus, oleh orang sekitarnya dianggap sebagai pemeras dan kaya karena memeras rakyat dengan membuat tagihan pajak yang penuh dengan kecurangan, sehingga dia mendapatkan hasil yang jauh lebih banyak dari semestinya. Namun setelah Zakheus bertemu dengan Yesus, dia menemukan kebenaran dan pertobatan.

Persembahan Kasih
Dalam hal ini kita diajak untuk belajar suatu hal yang sederhana, bagaimana kita bisa memberikan persembahan bagi Allah dengan tulus dan ikhlas. Kalau kita tidak bisa memberikan persembahan kepada negara secara jujur, yang secara kasat mata dapat dilihat dan dirasakan dengan mata duniawi, kita dapat memberikan kontribusinya tidak selalu berbentuk uang. Ada rasa tanggung jawab, rasa ikut memiliki dan memelihara adalah sesuatu yang lebih penting ketimbang sekedar membayar sejumlah uang.

Jangan lupa dahulukanlah karya Tuhan yang selalu menggema seperti buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23).

Maka, marilah kita temukan keutamaan-keutamaan tersebut, baik dalam diri kita masing-masing maupun sesama kita tanpa pandang bulu.

Lihat Juga:

Renungan (WM) Lainnya...

Renungan Harian

Selasa, 16 Januari 2024

Hari Biasa Pekan II Ekaristi harus disediakan bagi umat beriman, antara lain "sebagai penangkal, melaluinya kita dibebaskan dari kesalahan-kesalahan...

Selengkapnya

Jadwal Misa Rutin

Sabtu Pukul 16:30
  Pukul 19:00
 
Minggu Pukul 06:30
  Pukul 09:00
  Pukul 11:30
  Pukul 16:30
  Pukul 19:00

Selengkapnya

Kalender Liturgi